Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan BMS belum memulai rancangan desain yang dibutuhkan sehingga sampai saat ini Pertamina juga belum melakukan persiapan apapun. Kewenangan itu, ujarnya, sesuai dengan kesepakatan awal, di mana Pertamina membangun kilang dan mitranya menyediakan lahan dan infrastruktur pendukung.
"Sekarang masih dalam proses karena itu juga belum dimulai juga proyeknya. Mereka juga tentu dalam masalah desain juga belum dimulai jadi masih cukup panjang prosesnya," jelas Dwi ditemui di Raja Ampat, Jumat (29/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertamina memperkirakan defisit gas di Jawa Barat akan semakin membengkak jika tak segera dicarikan solusinya. Apabila pada 2013 defisit gas di Jawa Barat sebesar 349 satndar kaki kubik per hari (MMSCFD), maka pada 2020 diprediksi akan melebar menjadi 753 MMSCFD.
Dwi Soetjipto berharap setelah studi bersama selesai, biaya pemanfaatan terminal LNG bisa lebih murah sehingga harga jualnya menjadi lebih efisien. Sebagai pembanding, Pertamina menjadikan terminal penerima LNG di Arun, Aceh sebagai tolok ukur (benchmark).
"Sekarang ini kami gunakan floating terminal yang onshore yang kami miliki di Arun. Itu nanti pembanding yang bisa jadi komparasi, sejauh mana biaya yang bisa kami setujui untuk pemanfaatan," ujarnya. (ags)