JK: Bulog Jaga Stok Pangan Agar Pemerintah Tak Digulingkan

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Rabu, 11/05/2016 07:11 WIB
JK: Bulog Jaga Stok Pangan Agar Pemerintah Tak Digulingkan Wapres Jusuf Kalla mencatat, Indonesia telah dua kali mengalami krisis pangan yang berujung pada digulingkannya pemerintah yaitu pada 1965 dan 1998. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan manajemen Perusahaan Umum (Perum) Bulog untuk terus menjaga stok pangan pada level yang aman. Ia tidak ingin Indonesia mengalami krisis pangan yang terbukti bisa membuat pemerintahan suatu negara digulingkan.

JK mencatat, Indonesia sendiri telah dua kali mengalami krisis pangan yang berujung pada digulingkannya pemerintah yang ketika itu berkuasa yaitu pada 1965 dan 1998.

"Pengalaman Indonesia pemerintahan itu berganti karena pangan, pada 1965 terjadi kesulitan pangan dan orang antri," kata JK saat menghadiri perayaan hari ulang tahun Bulog, kemarin.


Ia menjelaskan, pada 1965 ada dua krisis yang menyebabkan pemerintahan Orde Lama digulingkan dan berganti menjadi pemerintahan Orde Baru, yaitu krisis politik dan ekonomi. Krisis pangan dianggap JK masuk ke krisis ekonomi dan itu menjadi salah satu penyebab pergantian pemerintahan.

Sementara untuk 1998, mantan Ketua Umum Partai Golkar mengungkapkan pada saat itu terjadi beberapa kondisi mulai dari krisis politik dan krisis ekonomi yang diperparah oleh fenomena El Nino yang mempengaruhi musim panen.

Hal tersebut membuat Indonesia harus mengimpor enam juta ton pangan agar krisis bisa teratasi. Sayangnya, impor tersebut tak mampu menyelamatkan pemerintahan. Ujungnya Presiden Soeharto yang ketika itu berkuasa, digulingkan oleh masyarakat.

"Itulah efek yang terjadi, tak hanya menyulitkan masyarakat ternyata krisis pangan juga bisa menjatuhkan pemerintahan," kata JK.

Jauh dari Krisis

Namun untuk saat ini, JK meyakini bahwa keberadaan pangan di Indonesia masih terjaga dan jauh dari kata krisis. Khusus untuk persiapan Ramadhan 1437 Hijriah dan Idul FItri 1437 Hijriah pun JK yakin bahwa persediaan pangan, khususnya beras, tidak ada masalah. Oleh sebab itu menurutnya Indonesia tak perlu melakukan impor beras dalam waktu dekat.

Sebelumnya Bulog mengklaim, siap menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 2016 dengan menjaga persediaan sembilan bahan pokok (sembako). Kesiapan ini terlihat dari kecukupan suplai beras dan persiapan menghadapi permasalahan distribusi pengiriman bahan sembako.

Saat ini, suplai beras mencapai 1,9 juta ton. Padahal, kebutuhan konsumsi beras rata-rata 300ribu ton dalam satu bulan. Itu berarti, kebutuhan stok beras sampai hari raya Idul Fitri masih terpenuhi. (gen)