Uang Muka Lebih Ringan, BCA dan BNI Genjot KPR

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 20/06/2016 14:21 WIB
Uang Muka Lebih Ringan, BCA dan BNI Genjot KPR BI memberi pelonggaran uang muka kredit pemilikan rumah (KPR). BCA dan BNI optimistis, penyaluran KPR mereka tumbuh double digit hingga akhir tahun nanti. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Central Asia Tbk menyambut hangat kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan ketentuan batas rasio pembiayaan terhadap nilai agunan (Loan to Value/LTV). Menurut Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA, pelonggaran uang muka dapat mendongkrak pertumbuhan lini kredit pemilikan rumah (KPR) perseroan.

"Kami ada niat revisi Rencana Bisnis Bank (RBB), tetapi mungkin lebih ke KPR akan kami naikkan targetnya. Lebih tinggi dari 10 persen," ujarnya, Senin (20/6).

Sebetulnya, Jahja menuturkan, manajemen cukup puas dengan capaian kredit konsumtifnya, KPR dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Lini bisnis ini tercatat tumbuh positif di sepanjang kuartal kedua tahun ini yang didorong oleh bunga rendah, bahkan tembus single digit.


Namun demikian, tidak dapat dipungkiri, permintaan kredit secara keseluruhan di kuartal I dan II masih belum menunjukkan geliatnya. Sebut saja, kredit modal kerja dan investasi yang pertumbuhannya masih di bawah 10 persen atau di bawah target perseroan.

Dihubungi secara terpisah, Anggoro Eko Cahyo, Direktur Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengungkapkan, manajemen juga merespon positif relaksasi dari BI. Harap maklum, hingga Mei 2016, pertumbuhan KPR di BNI masih lesu.

"Kalau melihat sampai Mei 2016, KPR BNI baru tumbuh sekitar empat persen. Jadi, kami berharap, bisa tumbuh double digit (dengan relaksasi yang diberikan)," terang Anggoro.

Anggoro menjelaskan, ketentuan baru mengenai LTV membuat manajemen optimistis untuk merealisasikan pertumbuhan KPR sebesar 11 persen hingga akhir tahun. Awalnya, bank pelat merah tersebut menargetkan pertumbuhan KPR di kisaran 9-10 persen.

Menurut dia, pelonggaran kebijakan LTV akan menarik nasabah untuk memiliki hunian impian mereka melalui KPR ketimbang mekanisme inden. Pasalnya, skema inden bakal lebih menguntungkan pengembang ketimbang nasabah.

"Kalau untuk nasabah memang dari dulu menarik LTV. Kalau inden, developer yang lebih senang, kalau nasabah lebih kepada uang muka," pungkasnya.

Sebagai informasi, BI memberikan pelonggaran LTV bagi rumah tapak di atas tipe 70, yaitu dari 80 persen menjadi 85 persen untuk pemilikan rumah pertama. Sementara, untuk rumah kedua dan ketiga di atas tipe 70, LTV masing-masing menjadi 80 persen dan 75 persen dari sebelumnya 70 persen dan 60 persen. (bir/bir)