"Jadi karena produksi gasnya itu 34 persen mengandung karbon dioksida dan banyak mengandung hidrogen sulfida, jadi banyak dibutuhkan investasi untuk fasilitas pemisahan gas tersebut. Sehingga alokasi untuk pupuk nanti ada dari lapangan-lapangan lain yang bisa onstream berikutnya," ujar Djoko ditemui selepas rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (21/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan nanti Pertamina tinggal menentukan industri apa saja yang mau disalurkan. Tinggal mereka cari buyer-nya," terangnya.
"Tapi itu baru di tahun 2023, karena sementara pabrik yang ada sekarang baru membutuhkan 50 MMSCFD di Cikampek. Namun untuk harganya sementara masih sama, tapi tentu nanti ada renegosiasi karena menyesuaikan Peraturan Presiden (Perpres) harga gas," jelas Djoko.
Sebelumnya, Kementerian ESDM mengaku kebingungan dalam mengatur harga gas dari Lapangan Jambaran - Tiung Biru di blok Cepu lantaran harganya tidak sesuai dengan keinginan calon pembeli. PT Pertamina EP Cepu (PEPC), selaku operator lapangan Jambaran-Tiung Biru, menetapkan harga US$ 8 per MMBTU, sementara pada saat itu Pupuk Kujang menginginkan harga US$ 7 per MMBTU.
"Pabrik pupuk tidak kuat menyerap, untuk listrik juga tidak kuat menyerap. Industri juga enggak kuat. Jadi bagaimana yang sebaiknya kami lakukan terhadap Jambaran - Tiung Biru?" ujar Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmaja akhir pekan lalu. (ags/gen)