PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya. Bank berlogo pita kuning itu masih optimistis pertumbuhan kredit bisa mencapai 10 persen tahun ini.
"Kami awalnya memasang target 12-14 persen tapi akan kami revisi di Rencana Bisnis Bank (RBB) menjadi 10 persen," ujar Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas saat dihubungi, Rabu (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Mandiri juga mewaspadai peningkatan rasio kredit bermasalah (NPL) yang timbul akibat penurunan daya nasabah dalam mencicil kreditnya. Perseroan akan melakuan mitigasi dengan membentuk gugus tugas (task force) khusus penanganan kredit bermasalah yang bertugas merestrukturisasi kredit.
"NPL juga masih diwaspadai meningkat terutama dari special mention loans," ujarnya.,
Sementara itu, Direktur Treasury PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Panji Irawan menyebut meski mencatatkan kinerja yang baik selama kuartal I, BNI juga turut mewaspadai penurunan permintaan di semester II. Pasalnya kondisi perekonomian domestik masih rentan terdampak gejolak pasar keuangan global.
Kendati demikian, BNI tetap optimistis pertumbuhan kredit sebesar 15-17 persen.
"Kredit di dunia bisnis belum terlalu kondusif karena pertumbuhan domestik dan global sendiri juga lagi rendah. Harga relatif stabil tidak ada inflasi itu cerminan pertumbuhan tidak terlalu kondusif buat kredit," ujar Panji.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI juga memastikan akan menaikkan target pertumbuhan kredit dari 15 persen menjadi 16 persen pada tahun ini melalui revisi RBB yang akan diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan pada Juni 2016.
”Untuk capai target laba tahun ini, kita naikkan (target pertumbuhan) kredit satu persen,” kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo.
Dengan dinaikkannya proyeksi pertumbuhan kredit itu, perusahaan yang baru meluncurkan satelit ini juga akan menambah daya simpanannya untuk menjaga likuiditas agar tetap mampu ekspansi kredit.
"Kami tetap pertahankan pertumbuhan sesuai rencana sebesar 9-11 persen. Beberapa segmen komersial masih tumbuh karena masih ada belanja infrastruktur pemerintah dan konsumsi ritel masih cukup kuat," ungkap Taswin. (gir)