Defisit yang terjadi pada paruh pertama tahun ini membengkak dibandingkan dengan realisasi defisit anggaran negara semester I 2015, yang kala itu sebesar Rp84,3 triliun atau 0,73 persen terhadap PDB.
"Dua alasan defisit membesar adalah karena realisasi belanja negara lebih tinggi Rp113 triliun dan penerimaan negara lebih rendah Rp33 triliun dari periode yang sama tahun lalu," ujar Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Rabu (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penerimaan perpajakan selaku penyumbang terbesar kas negara, kata Bambang, tercatat sebesar Rp522 triliun atau 33,9 persen dari target Rp1.539,2 triliun. Selebihnya merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyumbang Rp112,1 triliun atau 45,7 persen dari target Rp245,1 triliun.
"PPh migas turun karena harga minyak lebih rendah dari tahun lalu. PPN turun karena konsumsi rumah tangga melemah dan restitusi lebih tinggi dari tahun lalu. Cukai terpengaruh karena belum meningkatnya pembelian pita cukai," jelas Menkeu.
Khusus belanja negara, Kemenkeu mencatat realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp481,3 triliun atau 36,8 persen dari pagu Rp1.306,7 triliun. Sementara untuk transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp384 triliun atau 49,5 persen dari pagu Rp776,3 triliun.
Dari belanja pemerintah pusat, realisasi belanja Kementerian/Lembaga (K/L) mencapai Rp262,8 triliun atau 34,2 persen dari pagu Rp767,8 triliun dan belanja non K/L sebesar Rp218,5 triliun atau 40,6 persen dari pagu Rp538,9 triliun.
"Belanja cukup tinggi karena transfer ke daerah dan dana desa mencapai Rp384 triliun atau sekitar Rp50 triliun lebih tinggi dari tahun lalu Rp334,7 triliun. Terutama dana desa yang sudah tersalurkan Rp26,8 triliun, kalau tahun lalu hanya Rp7,9 triliun," tutur Bambang.
Meskipun kinerja defisit anggaran sudah mencapai 77,7 persen dari target Rp296,7 triliun (2,35 persen) , Bambang optimistis defisit fiskal akan mengecil pada akhir tahun, yang salah satunya dipengaruhi oleh realisasi penerimaan dari program amnesti pajak.
"Kami mengharapkan kinerja pada semester II-2016 akan membaik, karena disepakatinya amnesti pajak bisa membantu kinerja APBNP," kata Bambang.
Bambang memperkirakan penerimaan dari sektor perpajakan bisa mencapai Rp1.017,2 triliun pada semester II 2016 dengan proyeksi defisit anggaran pada akhir tahun sebesar Rp66 triliun atau sekitar 0,52 persen terhadap PDB. (ags)