Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan Provinsi Maluku dan Papua mengalami pertumbuhan minus 1,57 persen. Pasalnya, harga komoditas tambang yang tidak cukup bagus selama kuartal II.
"Kuartal II kemarin harga komoditas tambang sedang tidak bagus sehingga langsung berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua karena nilai ekspor komoditas tambang jadi rendah tapi sekarang sudah mulai pulih," ungkap Suryamin di kantornya, Jumat (5/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya komoditas migas sudah cukup baik sehingga memberi kontribusi pada ekonomi Kalimantan walau belum signifikan," kata Suryamin.
Tak jauh berbeda, pengamat migas, Kurtubi mengatakan volume produksi migas yang terbatas dan penurunan harga minyak yang mencapai 50 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu serta menurunnya minat investasi di bidang pertambangan menjadi alasan minimnya pertumbuhan ekonomi di sektor pertambangan.
"Untuk kuartal III, sektor migas bisa meningkat, harganya juga akan lebih bagus walau volume terbatas tapi hasil.produksi dipastikan bisa meningkat. Hasil tambang, seperti batu bara juga akan lebih baik," jelas Kurtubi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (5/8).
Sebagai informasi, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi berdasarkan wilayah masih tinggi di Pulau Sulawesi sekitar 8,49 persen, diikui Pulau Bali dan Nusa Tenggara 7,36 persen, Pulau Jawa 5,73 persen, dan Pulau Sumatera 4,49 persen. (gir)