Elang Utama, Direktur Utama Peradaban Land membenarkan hal tersebut. Pemimpin perusahaan pengembang properti tersebut mengungkapkan, pangsa pasar bank syariah dalam pembiayaan perumahan hanya berkisar 5 persen.
Dalam portofolio bisnis Peradaban Land sendiri, pembiayaan pemilikan rumah dari bank syariah hanya sebesar 10 persen. Sedangkan sisanya 90 persen masih berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR) bank konvensional. Alasannya sederhana, masyarakat masih menganggap pembiayaan melalui prinsip syariah lebih mahal kalau dibandingkan dengan bank konvensional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, kebanyakan masyarakat belum memahami perbedaan sistem marjin dan bunga dalam lini bisnis pembiayaan rumah dan KPR. Walhasil, nasabah kerap menganggap pembiayaan pemilikan rumah dengan KPR tidak berbeda.
"Ini memberikan keuntungan bagi nasabah, yakni rasa nyaman dan aman karena besaran angsuran yang pasti dan jelas hingga lunas," jelas Elang.
Poernomo B Soetadi, Direktur Retail Banking Bank Muamalat mengatakan, kebanyakan nasabah mengeluhkan harga pembiayaan pemilikan rumah yang masih mahal seperti di bank konvensional. Makanya, bank syariah harus pintar menyusun strategi bisnis untuk mengejar pertumbuhan pembiayaan pemilikan rumah.
Di samping, tetap mengedepankan keunggulan bank syariah. "Pembiayaan rumah dengan prinsip syariah menggunakan akad. Di Bank Muamalat, kami menggunakan akad murabahah (jual-beli), sedangkan bank konvensional tidak bis menggunakan akad. Padahal, akad ini memberikan kepastian," terang Poernomo.
Bank Muamalat menyadari, perusahaannya belum bisa menjadi pemain utama dalam bisnis KPR. Namun, bukan berarti, pelopor bank murni syariah tersebut pasrah. Poernomo bilang, perseroan membidik bertumbuh dengan memanfaatkan momentum pelonggaran kebijakan uang muka (finance to value/FTV).
Selain itu, sambung dia, perseroan juga menggelar program cicilan murah. Terkait cicilan murah, berarti bank syariah harus pandai mencari dana-dana murah di masyarakat. Instrumen seperti angsuran, uang muka hingga tenor cicilan pun menjadi andalan perusahaan untuk menarik nasabah.
"Kami melihat potensi pertumbuhan properti masih akan besar ke depannya, terlebih angka kebutuhan rumah di Indonesia masih sangat tinggi," pungkasnya. (bir/gen)