Ketua Umum DPP REI Eddy Hussy menyatakan, melambatnya pasar properti menengah ke atas selama semester I 2016 disebabkan pasar sedang menanti kepastian dari kebijakan amnesti pajak.
“Berkurangnya pasar untuk kelas menengah atas bukan karena daya beli masyarakat yang rendah, tapi karena banyak orang yang belum membelanjakan uangnya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, selain karena pasar menengah ke atas tengah menunggu realisasi dari dana amnesti pajak. Perekonomian global yang dinilainya masih belum kondusif pada semester I turut menahan investor atau pasar dalam membelanjakan uangnya, hal ini karena perekonomian global memiliki pengaruh yang cukup tinggi terhadap perekonomian dalam negeri.
“Target penerimaan pajak kemarin kan tinggi, jadi pemerintah fokus menegajar dana amensti pajak ini. Dana sekarang sudah mulai masuk, jadi perpajakan sudah mulai membaik dan berdampak ke perekonomian,” imbuhnya.
Jika laporan dana amnesti pajak dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada akhir September bagus, maka akan mempengaruhi kondisi ekonomi di Indonesia. Dana yang masuk tentu sudah mulai bisa dialirkan ke berbagai sektor, seperti properti.
Sayangnya, berdasarkan laman Direktorat Jenderal Pajak (DJP) jumlah harta yang sudah disampaikan Wajib Pajak (WP) baru mencapai Rp42,55 triliun hingga Minggu malam (21/8) pukul 21.00 WIB. Dengan jumlah uang tebusan mencapai Rp862,62 miliar, dan jumlah surat penyertaan harta 7.372.
Adapun komposisi total harta dari Rp42,55 triliun tersebut, dana repatriasi mencapai Rp1,45 triliun, deklarasi luar negeri berjumlah Rp5,56 triliun, serta deklarasi dalam negeri sekitar Rp35,5 triliun.
Sementara, target uang tebusan dari amnesti pajak diperkirakan sebesar Rp165 triliun, dengan dana repatriasi Rp1.000 triliun, termasuk target deklarasi sebesar Rp3.500 triliun-Rp4 ribu triliun. (gir)