Sebelumnya, Sri Mulyani menyatakan pemerintah perlu waspada melihat capaian deflasi Agustus. Pasalnya, hal itu menandakan pelemahan daya beli masyarakat.
Namun, Agus menilai, deflasi Agustus menunjukkan keberhasilan upaya BI dan pemerintah dalam mengendalikan tingkat inflasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengungkapkan, pengendalian inflasi di Indonesia jauh lebih berat dibandingkan dengan negara lain mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas. Potensi inflasi bisa timbul saat upaya distribusi dan pemerataan ketersediaan pasokan pangan tidak tercapai.
"Hanya masalah distribusi dan masalah ketersediaan pasokan pangan itu sudah bisa membuat inflasi yang tinggi karena (harga) di beberapa daerah terkendali. Tetapi (harga) di daerah tertentu meningkat otomatis inflasi menjadi tinggi, " ujarnya.
Saat ini, kata Agus, dunia memang tengah menghadapi tantangan rendahnya tingkat inflasi. Hal ini mengkhawatirkan, terutama bagi negara maju, karena mencerminkan lemahnya permintaan yang menghalangi kenaikan harga.
Rendahnya inflasi juga terasa di kawasan ASEAN. Disebutkan Agus, tadinya inflasi rata-rata negara di kawasan ASEAN di bawah empat persen tapi sekarang ada di bawah dua persen.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi sebesar 0,02 persen pada Agustus lalu akibat koreksi harga bahan makanan, tarif angkutan dan pulsa seluler pasca Hari Raya Idul Fitri.
Inflasi tahun kalender tahun ini tercatat sebesar 1,74 persen dan laju inflasi secara tahunan (Year on Year/YoY) sebesar 2,79 persen. Adapun laju inflasi inti tercatat sebesar 0,36 persen atau tumbuh 3,32 persen (YoY) (gen)