Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati menilai untuk bersedia menanam duit di Indonesia, investor tidak hanya butuh perizinan investasi instan. Namun juga berharap bisa dengan mudah mendapatkan lahan, bisa menggunakan infrastruktur di daerah tujuan investasinya, dan kemudahan pengurusan izin pendamping seperti Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
“Kalau hal-hal itu tidak ada, sekalipun sudah mengurus izin kurang dari 3 jam ya tetap saja tidak terealisasi investasinya,” tutur Enny saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada kuartal II tahun ini, pertumbuhan investasi mengalami perlambatan. Pertumbuhan investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan (yoy) atau lebih rendah dari capaian kuartal sebelumnya 5,57 persen (yoy).
Sementara, BKPM mencatat realisasi investasi hingga semester I 2016 telah mencapai Rp294,8 triliun atau naik 12,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi investasi sepanjang enam bulan pertama tahun ini sudah mencapai 50,1 persen dari target tahun ini yang ditetapkan Rp594,8 triliun.
BKPM mencatat investasi asing atau penanaman modal asing (PMA) dalam realisasi investasi semester I masih menjadi menjadi penyumbang terbesar. Nilainya mencapai Rp195,5 triliun atau 65,6 persen dari total investasi. Sisanya disumbang dari penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Kendati demikian, pertumbuhan investasi PMDN jauh lebih tinggi dari dari PMA. Realisasi investasi PMDN meningkat 20,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan peningkatan investasi PMA hanya 12,1 persen. (gen)