YLKI Sebut Tren Konsumsi BBM Bergeser Tinggalkan Premium

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Kamis, 15/09/2016 19:02 WIB
YLKI Sebut Tren Konsumsi BBM Bergeser Tinggalkan Premium Meningkatnya konsumsi BBM non premium dengan oktan lebih tinggi menandakan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang membaik. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan permintaan konsumen terhadap bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi seperti pertalite dengan kadar oktan (RON) 90 dan pertamax dengan RON 92 terus meningkat. Hal ini menyebabkan penurunan konsumsi BBM jenis premium dengan RON 88 di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Masyarakat mungkin sudah mulai sadar bahwa premium itu kadar oktannya paling rendah dengan kualitas yang buruk. Di dunia, RON 88 sudah tidak ada,” ujar Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, Kamis (15/9).

Menurut Tulus, dengan selisih harga yang tipis dan semakin mengecil, akhirnya konsumen memilih BBM dengan kualitas lebih baik. Untuk sepeda motor misalnya, banyak konsumen yang memilih pertamax.

“Perilaku konsumen seperti ini mulai kelihatan, khususnya di kota-kota. Permintaan terhadap BBM dengan kualitas yang lebih tinggi dari premium semakin besar,” kata dia.


Harga premium, pertalite dan pertamax saat ini memang tidak berselisih jauh. Jika premium dibanderol Rp6.450 per liter di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), maka pertalite dihargai Rp6.900 per liter dan pertamax Rp7.350 per liter di kawasan yang sama.

Daya Beli

Berly Martawardaya, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Indonesia, mengatakan peningkatan konsumsi BBM non premium yang oktannya lebih tinggi dan bagus menandakan kondisi ekonomi yang membaik.

“Pengguna kendaraan bermotor sudah bisa membeli BBM yang berkualitas, walau sedikit lebih mahal,” tukas Berly.

PT Pertamina (Persero) sendiri mencatat konsumsi BBM jenis pertalite dan pertamax series meningkatkan signifikan dalam tiga bulan terakhir. Pada saat yang bersamaan, penggunaan premium turun dan tinggal 40 persen dari konsumsi BBM secara nasional.

“Total premium di pasar gasoline nasional yang tadinya 79 persen di pertengahan tahun lalu sekarang sudah turun jauh tinggal sekitar 40 persen,” kata Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina.

Menurut Wianda, peningkatan penjualan pertamax maupun pertalite terjadi saat libur panjang, seperti di Idul Fitri yang mencatat kenaikan empat kali lipat untuk pertamax. Permintaan pertalite juga naik tiga kali lipat. Pada libur Idul Adha lalu, penjualan pertamax juga naik sekitar 11 persen.

“Ini menunjukkan tidak ada upaya Pertamina untuk mendikte konsumen dalam pemilihan jenis BBM yang digunakan. Konsumen sudah lebih paham BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya masing–masing,” ungkap dia.

Data penyaluran BBM pada periode Agustus 2016 yang sebelumnya dirilis Pertamina menunjukkan pertalite saat ini telah mengambil porsi sebesar 20,5 persen dari total konsumsi BBM dengan capaian sebesar 20 ribu kiloliter (kl) per hari atau naik 462 persen dari konsumsi Januari 2016 sebanyak 4.500 kl.

Kenaikan konsumsi juga dialami pertamax, mencapai 15,8 persen dengan penyerapan sekitar 15 ribu kl per hari atau naik 226 persen dari konsumsi pada Januari 2016 yakni 5.000 kl.

Sementara itu, penyaluran BBM jenis premium turun 13 persen dari 70 ribu kl perhari pada awal 2016 menjadi 56 ribu kl atau 63,4 persen dari total konsumsi BBM. (gen)