Pemerintah Acungi Jempol Pemangkasan Bunga Reverse Repo BI
CNN Indonesia
Jumat, 23 Sep 2016 01:47 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyambut baik penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) 7 Days Reverse Repo Rate (7DRR) September sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Pasalnya, hal itu sejalan dengan upaya pemerintah mendorong investasi melalui penurunan bunga kredit.
“Kalau suka bunga BI 7DDR turun kami berharap itu ditransmisikan ke suku bunga perbankan. Kalau suka bunga perbankan turun semoga bisa meningkatkan investasi,” tutur Pelaksana Tugas (Plt.) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara saat ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (22/9).
Kenaikan investasi, lanjut Suahasil, bakal mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun, berapa besar pengaruh pemangkasan BI7DDR terhadap pertumbuhan masih belum bisa diperkirakan mengingat proses transmisi kebijakan moneter memerlukan waktu.
“Jadi dampak penurunan BI rate Januari harusnya sudah mulai bisa terasa sekarang,” ujarnya.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Robert Pakpahan mengungkapkan, pemerintah bakal melihat dampak penurunan BI 7DRR terhadap perkembangan imbal hasil obligasi di pasar sekunder.
Biasanya, penurunan policy rate akan menurunkan imbal hasil obligasi di pasar sekunder. Hal ini menjadi pertimbangan pemerintah dalam menetapkan tingkat kupon penerbitan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri ORI013 yang akan ditawarkan pada 29 September mendatang.
Tidak menutup kemungkinan, tingkat kupon ORI bakal lebih rendah dibandingkan imbalan sukuk ritel tabungan ST-001 yang baru ditawarkan pada bulan lalu, 6,9 persen per tahun.
“Kalau BI rate turun kan in general tingkat bunga termasuk imbal hasil juga turun. Cuma itu kan turun dalam beberapa hari ini. Saya akan lihat rata-rata imbal hasil di pasar sekunder beberapa hari ini,” ujarnya.
Selain BI7DRR, pemerintah dalam menentukan imbal hasil ORI juga bakal mempertimbangkan dampak tertahannya kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat serta faktor inflasi yang terjaga.
“Kalau suka bunga BI 7DDR turun kami berharap itu ditransmisikan ke suku bunga perbankan. Kalau suka bunga perbankan turun semoga bisa meningkatkan investasi,” tutur Pelaksana Tugas (Plt.) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara saat ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (22/9).
Kenaikan investasi, lanjut Suahasil, bakal mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun, berapa besar pengaruh pemangkasan BI7DDR terhadap pertumbuhan masih belum bisa diperkirakan mengingat proses transmisi kebijakan moneter memerlukan waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Robert Pakpahan mengungkapkan, pemerintah bakal melihat dampak penurunan BI 7DRR terhadap perkembangan imbal hasil obligasi di pasar sekunder.
Tidak menutup kemungkinan, tingkat kupon ORI bakal lebih rendah dibandingkan imbalan sukuk ritel tabungan ST-001 yang baru ditawarkan pada bulan lalu, 6,9 persen per tahun.
“Kalau BI rate turun kan in general tingkat bunga termasuk imbal hasil juga turun. Cuma itu kan turun dalam beberapa hari ini. Saya akan lihat rata-rata imbal hasil di pasar sekunder beberapa hari ini,” ujarnya.
Selain BI7DRR, pemerintah dalam menentukan imbal hasil ORI juga bakal mempertimbangkan dampak tertahannya kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat serta faktor inflasi yang terjaga.