Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy menyatakan, kendati angka inflasi bulan lalu naik tetapi ia memprediksi risiko inflasi yang netral ke depannya disebabkan harga makanan dan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sudah terkendali.
"Pemerintah sudah merelaksasi impor makanan untuk mengatasi kekurangan dan potensi La Nina," ungkap Leo dalam risetnya, dikutip Senin, (3/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, harga BBM sendiri diprediksi stabil pada akhir tahun atau kuartal IV karena pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM) telah menurunkan harga premium sejak 1 Oktober menjadi Rp6.150 per liter dari Rp6.450.
Lebih lanjut Leo menjelaskan, untuk tingkat inflasi tahun depan diprediksi naik karena potensi penyesuaian dari kenaikan tarif listrik.
"Saat ini angka prediksi tersebut sedang kami kaji kembali," pungkasnya.
"Proyeksi inflasi dari survei Minggu ketiga itu 0,2 persen," tutur Agus, Jumat (22/9) lalu.
Secara tahunan, Agus menyebut inflasi bulan kesembilan diperkirakan sebesar 3,05 persen.
Menurut mantan Menteri Keuangan itu, beberapa komoditas yang menjadi sumber inflasi diantaranya bawang merah dan cabai merah. Selain itu, perkembangan harga beras juga diperkirakan berkontribusi pada inflasi bulan lalu.
"Kelihatannya seperti bawang merah cabai merah itu harus diperhatikan dan ada beras yang menjadi sumber inflasi," ujarnya. (gen)