Menurut Kepala Riset JLL James Taylor, tingkat okupansi properti dalam sektor ritel sangat tergantung dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Kendati tingkat okupansi terlihat stagnan, lanjut James, permintaan perusahaan ritel sebenarnya tumbuh tipis. JLL mencatat hingga kuartal III 2016, jumlah permintaan yakni sekitar 50 ribu per meter persegi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama halnya dengan area perkantoran. Pusat perbelanjaan ini dipengaruhi oleh PDB. Ketika PDB sudah naik di atas 5 persen jadi ada perbaikan, sehingga aktivitas pasar sudah mulai ada pergerakan di kuartal tiga," ungkap James, Rabu (5/10).
Sementara, pemerintah sendiri belum mengumumkan PDB pada kuartal III tahun ini, tetapi beberapa pihak termasuk Bank Indonesia (BI) memprediksi PDB pada kuartal III dapat menyentuh 5,2 persen.
Dengan demikian, JLL memprediksi tingkat okupansi mencapai 95 persen pada 2020. Kenaikan tingkat okupansi ini juga ditopang oleh moratorium pemerintah daerah yang membatasi pembukaan pusat perbelanjaan di DKI Jakarta.
Dengan begitu, jumlah penawaran area menurun dari tahun 2015 sebanyak 100 ribu per meter persegi, menjadi sedikit lebih kurang dari angka tersebut saat ini. JLL sendiri memprediksi jumlah penawaran hingga 2020 sekitar 50 ribu per meter persegi.
"Pasar ritel masih cukup sehat atau baik. Yang masuk dan akan masuk terbatas. Dengan keterbatasan penawaran yang ada ditambah permintaan yang ada maka masih cukup sehat," terangnya.
James menjelaskan, sektor ritel yang diminati saat ini yakni Food & Beverages (F&B). Hal ini karena perubahan budaya di mana pusat perbelanjaan tak lagi hanya dijadikan tempat belanja melainkan tempat untuk berkumpul (hang out), sehingga sektor F&B lebih dibutuhkan oleh pengunjung.
Berdasarkan catatan JLL, jumlah penawaran hingga saat ini yaitu 2,84 juta per meter persegi dengan harga sewa kotor Rp602.225 per meter persegi per bulan. (gir/gir)