Penurunan Harga Gas Poles Kinerja Industri Baja dan Logam

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Selasa, 11/10/2016 17:05 WIB
Target produksi baja sebanyak 20 juta ton sampai tahun 2020 akan ditopang oleh komitmen Presiden Joko Widodo menurunkan harga gas bagi industri. Ilustrasi tempat penampungan bahan bakar gas. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Industri Pengecoran Logam (Aplindo) optimis insentif pemerintah menurunkan harga gas industri akan mendongkrak pertumbuhan industri baja dan logam nasional. Ujung-ujungnya, Aplindo menilai, industri baja dan logam akan menjadi ladang investasi menggiurkan, terutama bagi para wajib pajak (WP) amnesti pajak.

"Sekarang ini ada amnesti pajak. Tentu, mereka (WP) mau menanamkan investasi di tempat yang menghasilkan. Dan, industri ini tepat. Belum lagi, insentif pemerintah berupa penurunan harga gas," terang Ketua Umum Aplindo Achmad Safiun, Selasa (11/10).

Sekadar mengingatkan, terkait penurunan harga gas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya berjanji akan memberi insentif bagi industri berupa harga gas rendah di kisaran US$5 sampai US$6 per MMBTU.


Gabungan Asosiasi Permesinan dan Pengerjaan Logam (GAMMA) juga optimis insentif tersebut akan memoles kinerja kinclong industri baja dan logam. Setidaknya, sampai tahun 2020 mendatang.

Ketua GAMMA Dadang Asikin mengungkapkan, pertumbuhan industri baja sampai 2020 akan ditopang oleh komitmen Jokowi dalam mempercepat pembangunan infrastruktur.

"Misalnya, pembangunan jalan pasti menggunakan besi atau baja. Kemudian, pelabuhan yang tentunya perlu beberapa peralatan berbahan baja. Jadi, industri ini ikut terbawa oleh pembangunan infrastruktur," kata Dadang.

Tidak cuma itu, industri baja juga diuntungkan oleh pembangunan sektor energi yang sedang digalakkan pemerintah. Misalnya, melalui pembangunan pembangkit listrik berkapasitas hingga 35 ribu megawatt (MW).

Sebagai informasi saja, para pelaku industri baja dan logam sepakat untuk meraih pertumbuhan produksi baja nasional di kisaran 20 juta ton hingga akhir tahun 2020 mendatang. Namun, kenyataannya, kapasitas produksinya cuma sekitar 12 juta - 13 juta ton.

"Saat ini, kapasitas produksi belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi baja nasional. Kami butuh sekitar 7 juta-8 juta ton lagi sampai 2020 nanti. Sekarang saja, 60 persen kebutuhan dipenuhi dari dalam negeri, sisanya 40 persen dari impor," tutur Basso Dato Makahanap, Komite Standarisasi dan Sertifikasi Asosiasi Industri Besi dan Baja (IISIA).

Oleh karena itu, investasi di industri baja harus ditingkatkan seiring dengan insentif yang diberikan pemerintah dan potensi investasi dari tax amnesty untuk menggenjot pertumbuhan industri baja nasional. (bir/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK