Head of Global Markets HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, komitmen investasi tersebut tidak bisa dibilang main-main. Pasalnya, tawaran komitmen suntikan modal dari sang induk tidak banyak dilakukan di negara-negara Asia lainnya, kecuali di China.
"Suntikan US$1,4 miliar itu uang tambahan yang masuk ke Indonesia, bukan keluar. Untuk investasi IT (teknologi informasi) itu akan menghabiskan ratusan juta dolar, biaya integrasi juga ratusan juta dolar AS. Jadi, kalau dihitung-hitung lumayan uang yang dihabiskan untuk rencana kami," ujarnya, Kamis (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi pajak juga sangat tidak jelas, karena status regulasinya belum ada. Artinya, belum ada yang bisa mengayomi perubahan insitusi asing menjadi PT, selama ini yang ada hanya PT merger dengan PT," terang dia.
"Saat ini, yang menjadi rencana kami adalah masuk ke BUKU III, karena PT-nya, sekarang Bank Ekonomi yang menjadi PT HSBC Indonesia, sebelumnya itu mereka masih buku II. Tapi saya bisa beritahu, sebelum akhir tahun ini akan masuk BUKU III," pungkasnya. (bir/gen)