Staf Peneliti YLKI Natalia Kurniawati mengatakan, fenomena itu secara tidak sengaja ditemukan ketika instansinya melakukan penelitian terkait ketepatan selang pompa (nozzle) BBM di salah satu SPBU di Tangerang.
Menurut informasi yang dihimpun dari petugas SPBU, kebanyakan konsumen ini tidak memiliki uang untuk membeli BBM sehingga mau tak mau menggadaikan KTP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini fenomena yang cukup unik, di mana banyak orang gadai KTP buat bayar bensin," jelas Natalia, Senin (21/11).
"Ternyata tidak hanya fasilitas SPBU-nya saja yang perlu diperbaiki, namun perilaku konsumen juga perlu dilakukan hal yang sama," terang Natalia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Syarief Hidayat menyebut jika aksi gadai KTP untuk beli BBM ini sudah berlangsung cukup lama. Namun menurutnya, aksi ini sulit untuk dicegah karena konsumen baru mengatakan tak punya uang setelah bensin diisikan ke kendaraannya.
Hasilnya, pengusaha kerap merugi akibat banyaknya konsumen yang tidak kembali lagi ke SPBU untuk membayar BBM. Gerah dengan perilaku masyarakat, akhirnya pengusaha menemukan cara ampuh dalam menghadapi aksi gadai ini.
"Silahkan saja kalau mau gadai, tapi beberapa supervisor hanya mau menerima jaminan ban cadangan (ban serep) karena mencari penggantinya susah. Kalau velg-nya racing, pasti mahal banget dan susah mencarinya, mending itu saja yang digadaikan. Kalau KTP atau SIM kan tinggal bikin surat kehilangan ke polisi dan bisa bikin yang baru kan," jelas Syarief.
"Di samping itu, transaksi non-tunai di SPBU di Indonesia masih rendah, yaitu baru 20 persen dari seluruh transaksi di SPBU. Padahal, transaksi non-tunai di luar negeri sudah mencapai 50 persen. Memang harusnya mengarah ke situ, biar masyarakat tidak lagi bilang tidak bisa bayar BBM karena tidak ada uang cash," pungkas Syarief. (gen)