Analisis

Harga Minyak Memanas, Konsumsi BBM Non Subsidi Tak Akan Lemas

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 27/10/2016 07:29 WIB
Harga Minyak Memanas, Konsumsi BBM Non Subsidi Tak Akan Lemas Tingginya ketergantungan akan BBM jenis Premium di masa lalu disebabkan oleh minimnya diversifikasi produk BBM yang beredar di masyarakat. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Mentah (Organization of Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang berniat memangkas produksi, cukup mengejutkan khalayak banyak. Siapa sangka, keputusan itu berhasil mengerek harga emas hitam sebesar 18 persen dalam tiga pekan terakhir.

Tak terasa, harga minyak mentah pun kembali memanas setelah hampir dua tahun melempem. Eskalasi harga minyak juga diprediksi masih berlanjut setelah suplai diramalkan akan terus mengerut.

Bank Dunia sendiri baru-baru ini ikut merevisi prediksi harga minyak dunia dari US$53 per barel hingga US$55 per barel di tahun 2017. Bahkan, ada spekulasi harga minyak bisa menyentuh US$70 per barel dan semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya.


Di satu sisi, pemerintah boleh berbesar hati karena ada potensi peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari penjualan minyak.

Sementara di sisi lain, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga berpeluang ikut menanjak, utamanya harga BBM khusus yang bukan penugasan pemerintah atau biasa disebut BBM non subsidi. Padahal, banyak sekali konsumen yang mulai beralih dari BBM jenis Premium menuju konsumsi BBM khusus, seperti Pertalite dan Pertamax, akhir-akhir ini.

Kondisi ini diperkuat dengan data PT Pertamina (Persero), di mana proporsi penjualan BBM khusus yang hanya 12,6 persen terhadap total penjualan bensin perseroan di penghujung 2015, berhasil meroket menjadi 31,3 persen dalam waktu enam bulan saja.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi beralasan, selisih harga yang tak terlampau jauh antara Premium dan BBM khusus menjadi alasan konsumen berbondong-bondong meninggalkan bahan bakar berkadar oktan 88 tersebut.

Namun, dengan prediksi penguatan harga minyak di masa depan, ada kemungkinan selisih harga antara kedua jenis BBM tersebut semakin jauh. Sehingga, momen hijrah massal ke Pertamax dan Pertalite ini bisa kandas begitu saja. Bahkan, bisa jadi masyarakat akan berbalik badan lagi mengonsumsi Premium.

Pertamina, sebagai badan usaha penyalur BBM penugasan dan BBM khusus, menyangkal prediksi tersebut. Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang beralasan, saat ini harga bukanlah konsiderasi utama bagi masyarakat dalam memilih BBM.

Pengguna kendaraan, tambahnya, pasti lebih peduli akan emisi gas buang seiring bertumbuhnya masyarakat kelas menengah dan pendapatan per kapita Indonesia.

Alih-alih mencari BBM termurah, konsumen kini doyan menggunakan BBM yang lebih ramah mesin. Sehingga, mereka berani membayar lebih untuk memanjakan kendaraan yang dimilikinya.

"Terutama generasi millenial Y dan Z itu lebih peduli dengan keramahan lingkungan, jadi mereka senang bisa berkontribusi dengan mengonsumsi BBM non-subsidi. Selain itu, harga bukan lagi menjadi konsiderasi memilih BBM ke depan. Pertimbangan utama adalah efisiensinya, berapa banyak konsumsi BBM yang dipakai per kilometer (km)," jelasnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, mandat pemerintah terkait standardisasi mesin kendaraan Euro 4 juga bisa mengukuhkan konsumsi BBM non subsidi di masa depan. Dengan kata lain, hanya BBM berkadar oktan 91 ke atas saja yang bisa jadi penggerak mesin kendaraan bermotor di kemudian hari.

Tetapi menurut Ahmad, perubahan ini tak bisa dilakukan secara instan. Pasalnya, banyak faktor yang melandasi kesiapan Indonesia dalam mengadopsi Euro 4, diantaranya daya beli masyarakat dan kemampuan Pertamina dalam memproduksi BBM berstandar Euro 4.

Ahmad melanjutkan, kapasitas Pertamina dalam memproduksi BBM yang sesuai Euro 4 mungkin akan terpenuhi di tahun 2023, ketika empat proyek perluasan kapasitas dan kompleksitas kilang perusahaan (Refinery Development Master Plan/RDMP) dan kilang baru di Bontang dan Tuban bisa berproduksi.

Meski terlihat jauh dari pelupuk mata, namun pria yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina yakin masyarakat mampu mengurangi ketergantungan akan Premium.

"Karena Euro 4 itu bukan hanya sekadar oktan, tapi juga perlu menyesuaikan kebiasaan. Makanya konsumen harus switch pelan-pelan dari Premium ke Pertalite lalu Pertamax," tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, masyarakat tak perlu panik jika nanti selisih harga kedua jenis BBM tersebut melebar terlalu jauh. Menurutnya, sangat sulit bagi harga minyak dunia untuk kembali ke tingkat US$100 per barel dalam beberapa waktu ke depan.

Berkaca dari Masa Lalu

Melengkapi ucapan Ahmad, Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menjelaskan, tingginya ketergantungan akan Premium di masa lalu disebabkan oleh minimnya diversifikasi produk BBM yang beredar di masyarakat.

Namun, Wianda berujar bahwa Pertamina tak boleh menjerumuskan konsumen ke dalam satu jenis BBM saja. Sebagai badan usaha pelat merah, lanjutnya, Pertamina memang wajib menyediakan aneka jenis BBM kepada masyarakat.

Sehingga, berbagai produk BBM pun diluncurkan demi memenuhi kebutuhan pelanggan.

Ternyata, upaya tersebut berbuah manis. Hal ini dibuktikan dengan larisnya penjualan Pertalite setahun belakangan, dari angka 327 kiloliter (kl) per hari di bulan Juli tahun lalu menjadi 25,2 ribu kl per hari pada September 2016.

Melihat antusiasme seperti demikian, ia menganggap bahwa harga bukanlah faktor utama dalam membentuk pola konsumsi BBM masyarakat. Namun, ragam pilihan jenis bahan bakar yang beredar pun ikut berkontribusi di dalamnya.

"Peningkatan penjualan Pertalite ini mengindikasikan bahwa kebutuhan masyarakat akan BBM yang bervariasi bisa terpenuhi. Ini pun memang seharusnya menjadi tugas kami, bahwa sebagai badan usaha penyalur BBM, kami perlu melakukan diversifikasi ragam BBM kepada konsumen," ujar Wianda.

Melengkapi ucapan Wianda, Direktur Ekesekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, harga BBM khusus yang tak jauh berbeda dengan Premium menjadi momen yang baik bagi masyarakat untuk mengubah pola konsumsinya.

Pada masa seperti ini, terangnya, masyarakat belajar untuk terbiasa dengan kondisi harga BBM yang berfluktuatif. Sehingga, apabila nanti harga minyak menanjak tajam, pola konsumsi BBM tidak akan bergerak.

Sekali pun ada perubahan konsumsi, ia yakin masyarakat minimal akan tetap membeli bahan bakar dengan kadar oktan 90.

"Perubahan pola konsumsi mungkin terjadi jika harga minyak sudah di posisi US$80 per barel. Kalau pun ada perpindahan konsumsi dari Pertamax mungkin hanya ke Pertalite, tak langsung ke Premium lagi. Karena di masa harga rendah seperti inilah terjadi penyesuaian konsumsi di masyarakat," terangnya.

Bukan Tren Sementara

Masyarakat nampaknya sadar jika perubahan harga minyak tidak selalu berkorelasi dengan perubahan pola konsumsi BBM. Kesadaran akan durabalitas mesin kendaraan dianggap sebagai faktor penting dalam memilih bahan bakar.

Wildan Muliawan, contohnya. Pengemudi ojek daring (online) yang berseliweran di Bogor ini mengaku telah berpindah hati dari Premium setahun yang lalu, tepat ketika Pertalite diluncurkan. Merasakan perubahan yang signifikan terhadap mesinnya, Wildan lalu memutuskan menggunakan Pertamax.

"Tadinya saya menggunakan Premium, namun bunyi mesin saya jadi aneh. Lalu saya pindah menggunakan Pertalite, ternyata kecepatannya semakin tinggi dan tarikannya semakin kuat. Saya coba pakai Pertamax, mesin saya jadi tidak gampang panas," jelasnya.

Sudah terlampau nyaman menggunakan Pertamax, Wildan pun tak terpikir untuk pindah kembali ke Premium sekalipun ada perubahan harga.

"Meski harga Pertamax akan naik dan semakin jauh dari Premium, saya akan tetap pakai Pertamax. Tidak apa-apa bayar mahal asal mesin awet," ungkapnya.

Sementara itu, desainer grafis, Taufan Tampubolon tak menampik jika dulu konsumsi BBM-nya dipengaruhi oleh harga. Ia sangat bersyukur dengan turunnya harga minyak dunia belakangan ini, sehingga ia bisa mencoba berbagai jenis bahan bakar.

Setelah mencari BBM yang tepat selama berbulan-bulan, hatinya tertambat pada Pertamax karena memberikan keuntungan yang lebih kepada mesin mobilnya dibanding Premium. Jika nanti harga Pertamax mengalami perubahan, ia pun tak mau lagi berganti ke Premium.

"Tetapi, harga juga faktor penting buat saya. Siapa yang tak ingin harga BBM khusus menjadi murah? Saya berharap nanti pemerintah juga bisa mengatur harga bagi BBM RON 90 ke atas, agar penggunaan BBM berkualitas juga bisa menjangkau hingga ke daerah-daerah," tutur Taufan.

Perubahan pola konsumsi BBM akan terjadi jika ada itikad serius dari masyarakat untuk berubah. Namun untuk mengakomodasi niat baik tersebut, ragam BBM yang beredar juga perlu bervariasi.

Harga memang menjadi konsiderasi. Tetapi, pengendara harus menyadari bahwa perawatan adalah konsekuensi dari memiliki kendaraan bermotor. Untuk itu, selama masyarakat sayang akan kendaraan yang dimilikinya, seharusnya tak perlu kebakaran jenggot jika nanti harga bahan bakar melonjak.

Sehingga, sekali pun diterjang tingginya harga minyak, hijrahnya masyarakat dari BBM beroktan rendah bukan sekadar tren sementara. (gen)