Pasalnya, meskipun Pemerintah Indonesia merupakan penerbit Sukuk Negara terbesar di dunia dalam bentuk dolar Amerika Serikat, namun ekonomi berbasis syariah hanya memiliki kontribusi 5 persen terhadap seluruh geliat ekonomi nasional.
Jokowi mencatat, sampai 30 November 2016, penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di pasar internasional telah mencapai US$10,15 miliar dengan outstanding US$9,5 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Di Malaysia sudah di atas 30 persen. Oleh sebab itu space yang masih besar itu akan terus kita kejar,” kata Jokowi, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Selasa (27/12).
“Bukan hanya keuangan syariah, bank syariah, asuransi syariah, tapi banyak hal yang lain yang bisa dikembangkan, seperti wisata syariah, restoran halal, industri syariah. Karena potensi pasar syariah kita terbesar di dunia,” tegasnya. (gen)