Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan, laju inflasi Desember 2016 bahkan jauh lebih rendah bila dibandingkan Desember 2015 yang mencapai 0,96 persen.
“Inflasi Desember 2016 juga merupakan laju inflasi terendah sejak beberapa tahun terakhir, yakni sejak tahun 2010," tutur Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Selasa (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun beberapa komponen yang mempengaruhi rendahnya inflasi, yakni stabilnya harga sejumlah bahan makanan di sepanjang Desember 2016, termasuk jelang perayaan Hari Natal dan Tahun Baru 2017.
Berdasarkan data BPS, indeks kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi, yakni transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,12 persen atau memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,2 persen.
"Ini karena adanya peningkatan pada tarif angkutan udara dan pulsa ponsel. Lalu ada juga sumbangan dari harga bensin namun relatif kecil dan juga tarif kereta api," katanya.
Secara berurutan, indeks kelompok yang mengalami inflasi, yakni bahan makanan sebesar 0,5 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,45 persen, kesehatan 0,32 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,18 persen, dan pendidikan, rekreasi, olahraga 0,05 persen.
"Semantara indeks kelompok sandang mengalami deflasi sebesar minus 0,46 persen," imbuhnya.
"Laju inflasi tertinggi terjadi di Lhouksemawe sebesar 2,25 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Padangsidempuan dan Tembilahan sebesar 0,02 persen," terang Suhariyanto.
Sementara kota yang mengalami deflasi adalah Manado dengan laju deflasi mencapai minus 1,52 persen. (gir)