Kibasan El Nino Sisakan Pedih Bagi Industri Sawit Nasional

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Rabu, 01/02/2017 09:48 WIB
Kibasan El Nino Sisakan Pedih Bagi Industri Sawit Nasional Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan dan Ketua Umum Gapki Joko Supriyono. (CNN Indonesia/ Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat penurunan produksi minyak kelapa sawit (CPO) sekitar 3 persen sepanjang 2016 menjadi 34,5 juta ton dari sebelumnya 35,5 juta ton di tahun 2015.

Direktur Eksekutif GAPKI Fadhil Hasan mengatakan, penurunan produksi CPO Indonesia sepanjang 2016 terseret angin panas atau El Nino yang menerpa Indonesia di 2015.

"Tahun 2016 ada berita baik dan buruk, buruknya di tahun 2015 kita mengalami El Nino sehingga produksi menurun," ujar Fadhil di kantor GAPKI, Selasa (31/1).


Dalam catatan GAPKI, penurunan produksi CPO di 2016 tak mempengaruhi produksi minyak kernel sawit (Palm Kernel Oil/PKO), yakni stagnan di angka 3 juta ton sejak 2015.

Namun, penurunan produksi CPO berasal dari penurunan produksi CPO yang merosot 1 juta ton dari 32,5 juta ton di 2015 menjadi 31,5 juta ton di tahun lalu.

Imbasnya, volume ekspor perdagangan CPO dan turunannya merosot sekitar lima persen di tahun lalu. Dari semula 26,4 juta ton di 2015 menjadi 25,1 juta ton di tahun lalu.

Meski demikian, Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono mencatat, penurunan volume ekspor perdagangan CPO dan turunannya tak menyeret penurunan nilai ekspor terlalu jauh.

"Penurunan volume ekspor lima persen rupanya hanya menurunkan nilai ekspor sekitar tiga persen di 2016 dibandingkan 2015," kata Joko pada kesempatan yang sama.

GAPKI mencatat, sepanjang tahun lalu, nilai ekspor perdagangan industri sawit hanya merosot tiga persen dari US$18,67 miliar di 2015 menjadi US$18,1 miliar.

Menurutnya, nilai perdagangan ekspor industri sawit cukup kokoh karena ditopang oleh perbaikan harga CPO yag merangkak naik di pertengahan tahun 2016.

Tercatat, harga rata-rata CPO global sebesar US$557 per metrik ton di awal 2016. Lalu, memasuki pertengahan tahun, rata-rata harga CPO global terkoreksi ke kisaran US$750 per metrik ton.

Perbaikan ini terus berlanjut hingga tutup tahun 2016 di mana rata-rata harga CPO global menyentuh angka US$790 per metrik ton.

Secara tahunan, harga rata-rata CPO global sepanjang tahun 2016 sebesar US$700 per metrik ton atau membaik 14 persen bila dibandingkan dengan rata-rata harga CPO di 2015, yakni US$614 per metrik ton.

Untuk diketahui, ekspor perdagangan CPO Indonesia menyasar lima pasar besar, yakni India sebanyak 5,78 juta ton, negara-negara di Uni Eropa sebesar 4,4 juta ton, China 3,23 juta ton, Pakistan 2,07 juta ton, dan Amerika Serikat 1,08 juta ton. (gen)