Indonesia Lirik Pasar CPO Rusia dan Eropa Timur

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 24/11/2016 04:41 WIB
Indonesia Lirik Pasar CPO Rusia dan Eropa Timur Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berancang-ancang menggenjot peningkatan ekspor produk minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO), serta produk turunannya, ke pasar-pasar non tradisional, seperti Rusia dan Eropa Timur. (REUTERS/Y.T Haryono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berancang-ancang menggenjot peningkatan ekspor produk minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO), serta produk turunannya, ke pasar-pasar non tradisional, seperti Rusia dan Eropa Timur.

Bendahara Umum Gapki Kanya Lakshmi Sidarta mengatakan, sampai akhir tahun ini, jumlah ekspor minyak sawit dari Indonesia ke Rusia diperkirakan mencapai lebih dari 700 ribu ton.

"Padahal, kalau digarap serius, potensi permintaannya lebih dari satu juta ton. Itu baru dari Rusia. Belum negara-negara lain di Eropa Timur," ujarnya, Rabu (23/11).


Permintaan pasar ekspor atas produk CPO dan turunannya dari Indonesia masih terbuka lebar. Selain pasar tradisional, seperti India, China, dan Uni Eropa, sebetulnya masih ada pasar lain yang belum digarap maksimal, seperti Rusia dan sejumlah negara di wilayah Eropa Timur.

Pada pertengahan tahun ini, Lakshmi dan sejumlah pengurus pusat Gapki bersama wakil dari pemerintah berkunjung ke Moskow untuk bertemu dengan wakil pemerintah dan pengusaha dari Negeri Beruang Merah tersebut.

Dalam pertemuan itu, dibahas berbagai peluang usaha serta upaya membuka pasar Rusia lebih besar bagi produk CPO maupun produk olahannya dari Indonesia.

"Mereka sangat antusias untuk membeli lebih banyak minyak sawit kita," kata Lakshmi.

Prospek pasar Rusia menarik dan memiliki peluang masih cukup besar untuk negara tujuan ekspor. Tren volume ekspor minyak sawit ke negara bekas Uni Soviet itu terus meningkat.

Pada 2012 lalu, volume ekspornya tercatat sebesar 356.000 ton dan meningkat menjadi 570.000 ton pada 2014. Kemudian, akhir tahun lalu tembus 657.000 ton dan diharapkan mencapai 700.000 ton hingga akhir tahun nanti.

"Jika minyak sawit Indonesia terus dikenalkan ke sana dan digarap lebih serius, angka lebih dari satu juta ton CPO bisa masuk ke Rusia," imbuh Lakshmi.

Pada penyelenggaraan konferensi minyak sawit terbesar di dunia, Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) akan dihadiri pembicara dari Rusia. Dalam IPOC ke-12 di Nusa Dua Bali, pada 23-25 November 2016, akan hadir Oleg S Medvedev yang merupakan profesor dari Lomonosov Moscow State University dan akan berbicara mengenai isu kesehatan minyak sawit di masyarakat Eropa.

Konferensi tersebut juga akan dihadiri oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita serta pejabat pemerintah lainnya dan para pakar di bidang sawit. (bir/gen)