Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, setidaknya dibutuhkan waktu dua hingga tiga tahun agar Floating Storage Regasification Unit (FSRU) bisa terbangun terlebih dulu. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan industri di wilayah mana saja yang benar-benar membutuhkan impor gas tersebut.
Indonesia saat ini hanya memiliki dua FSRU besar di Lampung dan Muara Karang. (Dok. Kementerian BUMN) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pun sedang membahas, jika impor dibuka, kira-kira industri apa saja yang diperbolehkan," katanya.
Sebelum membuka impor LNG, pemerintah terlebih dulu mengkaji penurunan gas bagi empat industri yang belum mendapatkan penurunan gas sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016, yaitu industri keramik, kaca, sarung tangan karet, dan oleochemical.
Saat ini, pemerintah tengah mengkaji efek berganda (multiplier effect) dari penurunan gas terhadap output produksi sektor-sektor tersebut. Di samping itu, pemerintah juga melihat dampaknya ke industri-industri turunan keempat sektor yang dimaksud. Jika dampaknya besar, maka penurunan gas bagi empat sektor yang dimaksud akan dilaksanakan segera mungkin.
Wamen ESDM Arcandra Tahar bilang pemerintah tengah mengkaji efek berganda dari penurunan gas terhadap output produksi sektor-sektor tersebut. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma) |
"Kami melihat dampak jika harga gas turun US$1 MMBTU, berapa besar rupiah yang bisa dihasilkan. Ini namanya menghitung multiplier effect-nya," katanya.
Sementara itu, Senior Vice President Gas and Power PT Pertamina (Persero) Djohardi Angga Kusumah mengatakan, impor gas tak bisa terelakkan karena kebutuhan bagi industri dan pembangkit listrik juga semakin besar. Ia meramal, pertumbuhan konsumsi gas mencapai 4 hingga 5 persen per tahun dan akan mengalami defisit di tahun 2019.
"Mungkin defisit bisa mencapai 500 MMSCFD di tahun 2019 sehingga perlu dilakukan impor. Impor pun bukan keinginan, tapi karena kebutuhan yang semakin meningkat," jelasnya.
Menurut data Kementerian ESDM, defisit LNG tercatat sebesar 27 kargo di tahun 2019. Angka ini akan bertambah menjadi 90 kargo di tahun 2024 dan 101 kargo di tahun 2025 akibat belum masuknya gas dari blok Masela. Untuk mempersiapkan defisit tersebut, dibutuhkan investasi infrastruktur senilai US$48,2 miliar. (gen)
Indonesia saat ini hanya memiliki dua FSRU besar di Lampung dan Muara Karang. (Dok. Kementerian BUMN)
Wamen ESDM Arcandra Tahar bilang pemerintah tengah mengkaji efek berganda dari penurunan gas terhadap output produksi sektor-sektor tersebut. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)