Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati mendapatkan informasi jika beleid itu akan terbit pada akhir bulan ini. PLN, lanjutnya, sangat tertarik untuk mengimpor LNG jika wewenang tersebut disetujui. Asalkan, harga LNG impor memang lebih murah dibanding gas domestik.
"Kalau misalnya harga yang kami dapat di dalam negeri lebih tinggi dari yang ditetapkan, maka kami diperbolehkan impor LNG. Intinya adalah, bagaimana menekan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik supaya tarif listrik lebih efisien," ujar Nicke, Rabu (25/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, PLN tak mau tergesa-gesa dalam mengimpor LNG. Ia mengatakan, perusahaan masih tetap melihat potensi gas murah yang terdapat di dalam negeri.
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2016 hingga 2025, energi gas diharapkan bisa menyumbang 24,3 persen terhadap bauran energi (energy mix) nasional. Angka tersebut bisa bertambah menjadi 29,4 persen jika kontribusi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 25 persen tidak tercapai.
Data PLN menunjukkan, kapasitas PLTG atau PLTMG terpasang per November 2016 tercatat sebesar 15.141 Megawatt (MW). Angka ini mengambil porsi 28,03 persen dari total kapasitas pembangkit sebesar 54.015 MW.
Sebelumnya, pemerintah juga membuka opsi impor LNG untuk mengamankan gas bagi industri.
"Iya (impor gas). Bukan menurunkan, tapi menjamin suplai kepada industri," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (24/1). (gir)