Laju IHSG Terkoreksi 0,39 Persen di Pekan Kedua Februari

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Minggu, 19/02/2017 18:41 WIB
Laju IHSG Terkoreksi 0,39 Persen di Pekan Kedua Februari Pekan lalu laju IHSG terkoreksi 0,39 persen. (Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu terkoreksi tipis sebesar 0,39 persen ke posisi 5.350,93 poin dari penutupan pekan sebelumnya di posisi 5.371,67 poin.

Kepala Divisi Komunikasi BEI Yulianto Aji Sadono mengatakan, melambatnya laju IHSG sejalan dengan nilai kapitalisasi pasar yang ikut surut 0,39 persen dari semula Rp5.834,1 triliun menjadi Rp5.811,24 triliun. Selain itu, IHSG juga menurunkan aksi jual bersih (net sell) yang dilakukan investor asing pada pekan lalu.

"Investor asing mencatatkan jual bersih Rp975 miliar sehingga di sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp900,8 miliar," kata Yulianto dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (19/2).


Secara rinci, rata-rata transaksi harian saham sebesar Rp8,37 triliun atau merosot 3,23 persen dari nilai transaksi pekan sebelumnya mencapai Rp8,65 triliun. Sedangkan rata-rata volume transaksi harian menyusut 18,87 persen dari 27,24 miliar unit saham menjadi 22,10 miliar unit saham pada pekan lalu.

Kemudian, tak ketinggalan, rata-rata frekuensi ikut menurun 0,25 persen menjadi 409,10 ribu kali transaksi dari 410,13 ribu kali transaksi.

Di sisi lain, BEI mencatat terjadinya pencatatan surat utang korporasi pertama di 2017 pada pekan lalu, yakni Obligasi Berkelanjutan II yang diterbitkan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) dengan nominal sebesar Rp1,55 triliun. Obligasi yang diterbitkan memiliki tingkat bunga tetap.

"Dengan pencatatan tersebut, total emisi obligasi dan sukuk di BEI berjumlah 315 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp307,37 triliun dan US$67,5 juta yang diterbitkan 108 emiten," jelas Yulianto.

Sedangkan untuk Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI sampai pekan lalu berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp1.833,82 triliun dan US$1.240 juta serta tujuh emisi Efek Beragun Aset senilai Rp2,83 triliun.