Kinerja Astra 2016 Berbalik Positif Ditopang Lini Agribisnis

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 28/02/2017 07:23 WIB
Peningkatan kinerja Astra Agro Lestari merupakan imbas positif naiknya harga CPO dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Peningkatan kinerja Astra Agro Lestari merupakan imbas positif dari naiknya harga CPO dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Astra International Tbk (ASII) berhasil bangkit dari keterpurukannya pada tahun 2016 dengan mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 4,78 persen. Meski tipis, tetapi perolehan ini berbanding terbalik dengan pencapaian laba bersih 2015 lalu yang turun hingga 24,63 persen.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan, kontribusi laba bersih paling banyak berasal dari lini bisnis agribisnis.

Sepanjang tahun lalu, laba bersih sektor agribisnis naik tajam hingga 224,34 persen menjadi Rp1,59 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp493 miliar.


Anak usaha Astra International yang bergerak dalam sektor agribisnis yakni, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), membukukan laba bersih sebesar Rp2 triliun atau naik dari tahun 2015 sebesar Rp619 miliar. Astra International diketahui mengempit saham 79,7 persen di Astra Agro.

Peningkatan ini merupakan imbas positif dari naiknya harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Selanjutnya, laba bersih dari sektor infrastruktur dan logistik juga tercatat tumbuh 34,87 persen dari Rp195 miliar menjadi Rp263 miliar. Salah satu ruas jalan tol yang mengalami peningkatan dari tingkat volume kendaraan yakni, ruas jalan tol Tangerang-Merak sepanjang 72 kilometer (km).

Ruas jalan tol tersebut dioperasikan oleh PT Marga Mandala Sakti (MMS), yang sebesar 79,3 persen sahamnya dimiliki oleh Astra International. Volume kendaraan di ruas tol Tangerang-Merak meningkat tiga persen 48 juta kendaraan.

Sementara itu, sektor alat berat dan pertambangan memberikan kontribusi sebesar Rp3,03 triliun, naik 29,46 persen dari Rp2,34 triliun. Kemudian, untuk sektor otomotif tumbuh 22,8 persen dari Rp7,46 triliun menjadi Rp9,16 triliun.

"Penjualan mobil Astra International tumbuh 16 persen menjadi 591 ribu unit, lebih tinggi dari kenaikan penjualan mobil secara nasional yang tumbuh lima persen menjadi 1,1 juta unit," papar Prijono dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (28/2).

Jasa Keuangan Lesu

Sayangnya, tidak semua sektor bisnis Astra International memberikan kontribusi positif. Beberapa lini bisnis Astra International terlihat mencatat penurunan kontribusi pada tahun 2016, terutama sektor jasa keuangan yang turun hingga 77,8 persen.

Menurut Prijono, laba bersih sektor tersebut hanya sebesar Rp789 miliar, jauh lebih rendah dari pencapaian 2015 sebesar Rp3,55 triliun. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi keuangan PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang meningkatkan pencadangannya karena naiknya tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), khususnya pada segmen komersial.

NPL gross bank Permata tahun lalu mencapai 8,83 persen, atau naik 222,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar 2,74 persen. Kemudian, untuk NPL secara nett, tercatat sebesar 2,24 persen atau naik jika dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai 1,40 persen.

"Bank Permata mencatat kerugian bersih Rp6,5 triliun pada 2016, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp247 miliar pada 2015," terang Prijono.

Penurunan kontribusi dari sisi laba bersih lainnya juga berasal dari sektor properti. Dari sektor tersebut, Astra International meraup laba bersih sebesar Rp111 miliar. Jumlah tersebut rupanya turun 47,39 persen dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar Rp211 miliar.

"Ini disebabkan oleh adanya penurunan revaluation gain pada proyek gedung perkantoran grade A Grup, Menara Astra," ucap Prijono.

Seperti diketahui, Astra International baru saja melakukan topping off pada dua proyek properti pertamanya di kawasan Sudirman dengan nilai investasi Rp8 triliun bernama, Menara Astra dan Andanamaya Residences.

Sektor terakhir yang memberikan kontribusi negatif yakni, teknologi informasi. Laba bersih sektor tersebut turun tipis 3,92 persen menjadi Rp196 miliar dari sebelumnya Rp204 miliar.

Adapun, pendapatan Astra International tercatat turun tipis 1,68 persen. Prijono memaparkan, jumlah pendapatan yang didapatkan perusahaan sepanjang tahun lalu sebesar Rp181,08 triliun, sedikit turun dibandingkan dengan sebelumnya Rp184,19 triliun.

"Penurunan pendapatan seiring dengan penurunan pendapatan dari segmen alat berat dan pertambangan dan turunnya pendapatan dari Toyota sales operation," imbuh Prijono.

Selanjutnya, untuk nilai aset bersih per saham Astra International naik 9,67 persen menjadi Rp2,76 triliun dari sebelumnya Rp2,52 triliun.