Hal ini semakin membuat ragu pasar, bahwa kebijakan pemangkasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) benar-benar bisa mendongkrak harga emas hitam tersebut.
Dikutip dari Reuters, penurunan ini melanjutkan sesi perdagangan Rabu (8/3) di mana harga minyak terjun 5 persen setelah AS diketahui memiliki tambahan persediaan minyak 8,2 juta barel pada pekan lalu dan membuat persediaan secara keseluruhan tercatat 528,4 juta barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini merupakan level terendah harga minyak setelah OPEC memberlakukan pemangkasan produksi.
Volume perdagangan untuk Brent terbilang tinggi dengan rekor mencapai 487 ribu lot berpindah tangan. Angka ini merupakan titik tertinggi sejak tahun 1988 silam.
Namun, kegiatan pengeboran minyak AS terus bertambah. Pasalnya, perusahaan minyak AS berencana untuk menambah pengeboran di Dakota Utara, Oklahoma, dan wilayah migas non konvensional lainnya. Bahkan, lapangan Permian yang digadang sebagai lapangan minyak terbesar di AS, memperlihatkan kenaikan produksi yang signifikan.
Untuk itu, pejabat tinggi Arab Saudi di sektor energi dikabarkan telah bertemu beberapa petinggi perusahaan minyak AS dalam pertemuan tertutup. Pertemuan itu membicarakan bahwa perusahaan tidak boleh berasumsi bahwa OPEC akan memperpanjang periode pemangkasan produksi agar pertumbuhan produksi minyak non-konvensional AS bisa ditekan. (gen)