2054, Tambang Freeport di Papua Tak Berharga Lagi

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Senin, 20/03/2017 11:50 WIB
2054, Tambang Freeport di Papua Tak Berharga Lagi
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Freeport Indonesia memprediksi cadangan ore di lokasi pertambangan perusahaan di Papua akan habis di tahun 2054 mendatang dengan hitungan cadangan ore saat ini sebesar 2,1 miliar ton.

Senior Vice President Geo Engineering Freeport Wahyu Sunyoto menjelaskan, terdapat upaya konservasi yang akan dilakukan perusahaan agar cadangan tersebut bisa terjaga. Salah satunya adalah mengurangi kapasitas pengolahan bijih (mill) maksimal sebesar 100 ribu ton per hari.

Menurutnya, saat ini kapasitas maksimal mill Freeport mencapai 300 ribu ton per hari. Jika cadangan ore ingin terjaga sampai 2054, setidaknya perusahaan harus memasang kapasitas mill sebesar 240 ribu ton per hari.

"Dulu memang pernah kapasitas mill mencapai 300 ribu ton per hari, tapi sekarang hanya 240 ribu ton per hari. Dengan angka tersebut dan cadangan yang ada, kami perkirakan cadangan tersebut habis 2054 mendatang," terang Wahyu, Senin (20/3).

Untuk memaksimalkan kapasitas mill, perusahaan harus mencari cadangan ore baru sebanyak 2,3 miliar ton. Sehingga, perusahaan perlu melakukan eksplorasi cadangan baru di sekitar lokasi tambang yang terletak di Pegunungan Grasberg saat ini.

Namun sayangnya, rentang waktu antara eksplorasi hingga produksi pertama terbilang memakan waktu. Ia mencontohkan tambang perusahaan di Ertsberg yang ditemukan pada 1930 namun baru bisa diproduksi mulai 1992.

Selain itu, ia juga merujuk pada tambang Batu Hijau yang dioperatori PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang baru diproduksi tahun 1999 meski ditemukan pada 1985.

2054, Tambang Freeport di Papua Tak Berharga LagiTambang bawah tanah Freeport. (Dok. Freeport Indonesia)


Pengembangan Tertunda

Terlebih menurutnya, cadangan tambang di Papua sebagian besar terletak di bawah tanah dengan persiapan yang tak kalah rumitnya. Berkaca dari pengembangan tambang bawah tanah Grasberg, persiapannya sudah dilakukan sejak tahun 2004 meski operasinya sendiri akan dilakukan mulai tahun ini. Padahal, tambahan produksi orenya terbilang 80 ribu ton per hari.

"Apalagi, mencari cadangan baru di Papua ini susah. Selain itu kami melihat, masa depan cadangan tambang ini berada di bawah tanah. Sehingga dibutuhkan investasi besar yang berlangsung jangka panjang," tambahnya.

Kendati demikian, ia tak menyebut angka belanja modal yang dibutuhkan perusahaan di masa depan. Namun, perusahaan setidaknya membutuhkan pengeluaran operasional (operational expenditure/opex) setidaknya sebesar US$2,3 miliar per tahun hingga 2041 mendatang.

Selain itu, perusahaan juga membutuhkan kepastian mengenai aspek hukum dan keekonomian agar investasi masa depan bisa berjalan dengan baik. Karena merujuk pada laporan Fraser Institute Mining Survey tahun 2012, Indonesia punya potensi cadangan baik meski regulasinya kurang mendukung.

"Provinsi Papua punya potensi tambang menjanjikan. Namun, Fraser Institute menyatakan bahwa impact policy yang ada ini berada di bottom. Perbaikan iklim investasi perlu segera dilakukan, karena banyak sekali perusahaan mining luar mengincar Indonesia," tuturnya.

Sebagai informasi, Freeport telah menambang ore sebesar 1,7 miliar ton sejak operasinya dimulai di tahun 1967. Pada tahun lalu, produksi tembaga Freeport tercatat 482,16 ribu metrik ton dan emas sebesar 1.061 ons.