Analisis

Meraba Imbas Tarif Baru Transportasi Online Bagi Emiten Taksi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 21/03/2017 18:12 WIB
Meraba Imbas Tarif Baru Transportasi Online Bagi Emiten Taksi Awal April nanti, masyarakat tidak bisa menikmati lagi tarif murah layanan taksi berbasis online. Apa imbasnya bagi saham taksi Blue Bird dan Express? (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Awal April nanti, masyarakat tidak bisa menikmati lagi tarif murah layanan taksi berbasis online. Pasalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan memberlakukan 11 poin yang direvisi dalam Peraturan Menteri (Permen) 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Dalam Permen tersebut, tarif taksi online akan memiliki tarif batas atas dan batas bawah. Sehingga, selisih tarif antara taksi online dan konvensional tidak akan berbeda banyak. Akibatnya, bisnis transportasi taksi bisa lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya.

Namun, beleid yang diteken Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi ini tidak membuat harga saham PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) naik signfikan. Bahkan, saham Express Transindo mengalami penurunan sejak awal Maret hingga hari ini sebesar 1,19 persen.


Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, pada awal Maret harga saham Express Transindo berada di level Rp168 per saham, sedangkan hari ini harga sahamnya ditutup di level Rp166 per saham.

Namun, Blue Bird masih beruntung karena mengalami kenaikan tipis sebesar 4,98 persen bila dilihat sejak awal Maret hingga hari ini. Secara rinci, harga saham Blue Bird pada awal bulan masih Rp3.810 per saham dan hari ini berada di level Rp4 ribu per saham.

Bima Setiaji, Analis NH Korindo Securities menjelaskan, saham Blue Bird sendiri sudah naik terlalu tinggi sejak Februari. Pelaku pasar sudah lebih dahulu melakukan akumulasi beli dalam merespons rencana Kemenhub yang akan memberlakukan tarif atas dan tarif bawah pada taksi online.

Memang, jika dilihat sejak pada awal Februari harga saham Blue Bird masih berada di level Rp2.900 per saham. Kemudian, harga saham terus tumbuh ke level Rp3.990 pada akhir Februari.

"Jadi, kenaikannya sudah sangat pesat untuk Blue Bird, sebelum berita ini semakin mencuat pelaku pasar sudah banyak melakukan aksi beli. Ini sudah price in, jadi sekarang tidak begitu naik banyak lagi," ucap Bima kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/3).

Sementara, untuk saham Express Transindo sendiri tidak mengalami perubahan yang besar, bahkan harga sahamnya sepanjang Februari tahun ini bergerak stagnan, di mana harga saham perusahaan pada awal dan akhir tahun Februari sama di level Rp173 per saham.

Beda Sentimen

Artinya, ada perlakuan yang berbeda dari pelaku pasar dalam merespons pemberlakuan tarif atas dan bawah untuk taksi online ini. Bima berpendapat, pelaku pasar masih pesimis dengan kinerja Express Transindo karena memang keuangan perusahaan yang masih rugi pada kuartal III tahun lalu.

"Untuk Express Transindo pelaku pasar masih menunggu laporan keuangan tahunanannya, pasar lebih pesimis dengan Express Transindo," tambah Bima.

Meski pergerakan saham Blue Bird terbilang lebih positif dibandingkan Express Transinso, sebenarnya saham Express Transindo terbilang jauh lebih liquid. Untuk hari ini saja, harga penawaran beli atau bid tertinggi saham Express Transindo sebesar Rp165 per saham sebanyak 100 lot. Sementara, harga penawaran jual atau offer-nya yakni Rp167 per saham sebanyak 673 lot.

Bila dibandingkan dengan saham Blue Bird, harga bid tertingginya yakni, Rp3.970 per saham sebanyak satu lot dan harga offer Rp4.000 per saham sebanyak 2.074.

"Siklus hariannya untuk Blue Bird sebenarnya tapi kurang menarik. Jika dibandingkan dengan PT PP Tbk (PTPP) yang harga sahamnya tidak jauh beda tapi jumlah penawaran beli dan jualnya bisa puluhan ribu," papar Bima.

Namun, dari sisi keuangannya sendiri, Bima optimis kinerja keuangan Blue Bird bisa positif atau mencatatkan pertumbuhan laba bersih pada 2017 ini. Sementara, untuk Express Transindo diprediksi masih akan negatif atau mencatatkan rugi bersih karena adanya pengurangan armada oleh Express Transindo.

"Kemudian juga dari kerja sama Blue Bird dan Go-Car lebih menguntungkan daripada kerja sama Express Transindo dengan Uber. Selisih tarifnya sedikit kalau Blue Bird jadi tidak merugikan," terangnya.

Meraba Imbas Tarif Baru Transportasi Online Bagi Emiten TaksiIlustrasi taksi online. (REUTERS/Charles Platiau)


Sebelumnya, analis Bahana Sekuritas Gregorius Gary menyebut, kerja sama yang dilakukan Blue Bird dengan Go-Car lebih rasional karena subsidi yang diberikan antara 20 persen-50 persen dari tarif normal Rp4.459 per kilometer (km). Sementara, uber memberikan tarif Rp4.032 per km dengan diskon 70 persen.

“Memang kalau kita lihat sekilas seolah-olah pihak Gojek rugi karena memberikan subsidi kepada Blue Bird sebab tarif yang dibayarkan penumpang sebesar tarif yg ada di aplikasi Go-Car, sedangkan untuk kekurangan tarif normal yang diberlakukan taksi Blue Bird Akan dibayarkan pihak Gojek. Namun ternyata angkanya tidak sebesar yang kami perkirakan sebelumnya,” kata Gregorius dalam risetnya belum lama ini.

Melalui kerja sama ini, Bahana Sekuritas memprediksi, pendapatan Blue Bird bisa tumbuh hingga Rp5,3 triliun pada tahun ini dan Rp4,85 triliun pada akhir tahun 2016.

Di sisi lain, Bima menilai, kenaikan laba bersih Blue Bird dan Express Transindo tidak akan begitu signfikan perubahannya karena jumlah penumpang taksi saat ini tidak bertambah, sementara jumlah armada taksi terus bertambah dengan adanya taksi online.