Analisis

Meramal Kemenangan Anies dan Perjalanan IHSG ke 6.000

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Kamis, 23/03/2017 18:15 WIB
Meramal Kemenangan Anies dan Perjalanan IHSG ke 6.000 Riset PT Bahana Sekuritas memperkirakan Anies-Sandi mendapat suara sekitar 50,6 persen, terutama ditopang oleh suara dari luar partai politik pendukung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Panas suasana politik semakin terasa mendekati Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua yang akan digelar kurang dari sebulan lagi. Namun, pasar modal Indonesia dinilai mampu terus menguat karena fundamental ekonomi yang tahan goncangan.

Berdasarkan riset PT Bahana Sekuritas, pasangan calon no.2 yakni Ahok-Djarot, diperkirakan mungkin mengantongi perolehan suara sebesar 49,4 persen yang berasal dari partai politik pendukung yakni PDI-P, Golkar, Nasdem dan Hanura sekitar 24,7 persen.

Sementara, pemilih di luar partai politik diperkirakan menyumbang suara sekitar 22,8 persen. Sedangkan kisaran pemilih yang masih mungkin mengubah pilihannya mencapai 1,9 persen.


Meramal Kemenangan Anies dan Perjalanan IHSG ke 6.000Debat Pilkada DKI Jakarta putaran I. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Pasangan calon no.3, Anies-Sandi diperkirakan mendapat suara sekitar 50,6 persen, terutama ditopang oleh suara dari luar partai politik pendukung yang mungkin mencapai 28,8 persen.

Sumbangan dari partai politik pendukungnya seperti Gerindra dan PKS diperkirakan hanya sebesar 16,5 persen, sumbangan dari suara pemilih yang masih mungkin mengubah pilihannya diperkirakan mencapai 5,3 persen.

''Kami melihat siapapun yang akan memenangkan Pilkada putaran kedua ini, roda kehidupan Jakarta tetap akan berjalan dengan berbagai keramaian suasana politik yang membayangi perekonomian dan kompromi akan tetap menjadi esensi berpolitik,'' kata Kepala Riset dan Strategis Bahana Sekuritas Harry Su.

Perusahaan efek pelat merah ini meyakini, keriuhan politik di ibu kota negara terbesar se-Asia Tenggara ini, tidak terlalu mempengaruhi pergerakan pasar khususnya indeks harga saham gabungan (IHSG), pasalnya fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat.

“Sehingga Bahana meyakini perkiraan indeks mencapai level 6.000 pada akhir tahun ini semakin kuat dan bahkan level tersebut bisa terjadi sebelum akhir tahun ini, bila pemerintah mempercepat belanja untuk infrastruktur. Saat ini indeks bergerak dikisaran 5.555,” jelas Harry.

Katalis Bukan dari Pilkada

Katalis yang mendukung hal itu salah satunya kemungkinan Indonesia mendapatkan rating investment grade dari lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P). Pasalnya, kemarin perwakilan S&P menemui Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta untuk membicarakan kembali masalah fiskal, pajak dan anggaran Indonesia.

Dalam beberapa hari kedepan, S&P juga akan berbicara dengan kebijakan moneter Bank Indonesia serta dengan Menteri Keuangan. S&P mengunjungi Indonesia untuk melakukan update rating yang akan dilakukan pada Juni mendatang.

Stabilnya nilai tukar terhadap dolar dalam beberapa bulan terakhir ini, meski the Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 persen pada bulan ini, ternyata tidak terlalu mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Masih positifnya harga komoditas global menjadi penolong untuk meningkatkan pendapatan petani, yang pada akhirnya hal ini akan memberi support bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan Bahana sekitar 5,3 persen pada tahun ini, di tengah-tengah inflasi yang diperkirakan masih akan berada dikisaran 4 persen, meski ada tekanan harga.

“Sementara itu, neraca transaksi berjalan diperkirakan defisit sekitar 2,1 persen pada akhir tahun dan cadangan devisa Indonesia masih akan stabil kuat dikisaran US$120 miliar,” kata Harry.

Dengan berbagai faktor pendukung yang memberi support bagi perekonomian Indonesia pada tahun ini, beberapa saham emiten rekomendasi dari Bahana Sekuritas di antaranya saham otomotif seperti PT Astra International Tbk (ASII), saham komoditas PT United Tractor Tbk (UNTR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), saham ritel termasuk PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan saham konstruksi seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).