Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyebut, angka ini terdiri dari 1.776 IUP mineral dan 786 IUP batu bara.
IUP yang belum memenuhi syarat CNC ini paling banyak terdapat di Kalimantan Selatan, atau 13,73 persen dari total IUP non-CNC di seluruh Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi tambang batu bara. (Thinkstock/Adam88xx) |
Lebih lanjut ia mengatakan, pencabutan IUP ini disebabkan karena adanya perubahan indikator CNC. Ia mencontohkan, sejak CNC dimulai tujuh tahun lalu, aspek kewilayahan tidak menjadi indikator persyaratan sertifikat tersebut.
Namun, sejak peraturan peraturan daerah berlaku melalui Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 2015, aspek kewilayahan ini dimasukkan ke dalam indikator CNC. Hasilnya, terdapat beberapa IUP yang kedapatan menguasai konsesi lahan yang sama.
"Kami pernah mendapat kasus di mana ada tumpang tindih lahan konsesi antara satu perusahaan dengan tujuh perusahaan lainnya. Dalam hal seperti ini, ya CNC-nya dicabut. Dulu memang, CnC ini tidak melihat wilayah, tapi seterusnya, sampai CNC ini diberlakukan 23 kali, sekarang melihat aspek kewilayahan," jelasnya.
Namun menurutnya, pembatalan ini tidak diberikan oleh Kementerian ESDM melainkan melalui Pemerintah Daerah sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 43 Tahun 2015.
Ia menceritakan, hingga saat ini masih banyak sekali perusahaan tambang yang mengajukan rekomendasi CNC ke Kementerian ESDM meski wewenang utamanya ada di Pemerintah Daerah. Ia mengatakan, rekomendasi dari Kementerian ESDM bisa saja diberikan, tapi belum tentu disetujui Pemerintah Daerah setempat.
"Ada yang datang ke kami, katanya harusnya perusahaannya dapat CNC. Potensinya masih ada sekitar 602 IUP. Tetapi, berdasarkan ketentuan yang ada, keputusannya ada di Pemerintah Daerah," imbuh Bambang.
Ilustrasi tambang batu bara. (Thinkstock/Adam88xx)