Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyoroti rendahnya tingkat partisipasi perempuan dalam dunia ketenagakerjaan. Di sektor perburuhan misalnya, perempuan di Indonesia hanya memiliki andil sebesar 32 persen saja, sementara sisanya 68 persen didominasi oleh tenaga laki-laki.
Di samping itu, perempuan juga kerap mengalami diskriminasi dari segi pengupahan. Mengutip data International Labor Organization (ILO) ada perbedaan hingga 19 persen terhadap upah yang diterima oleh buruh perempuan jika dibandingkan dengan buruh laki-laki. Hal ini membuat akhirnya perempuan lebih memilih terjun ke sektor informal untuk mencari nafkah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut catatannya, keterlibatan perempuan di sektor informal bisa mencapai 55 persen. Ia menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mampu lebih tinggi jika perempuan bisa diberikan kesempatan yang sama di sektor formal.
"Dalam kapasitas saya sebagai menteri keuangan, kami sudah memberikan akses pada perempuan untuk bisa melapor pajak pribadi tanpa harus bergantung pada suaminya," kata Sri Mulyani.
"Ketika perempuan bisa melapor pribadi hartanya, maka dia memiliki hak untuk mengakses dan mengontrol aset yang ia miliki," lanjutnya.