Dikutip dari Reuters, pasar memang sudah diwarnai aksi jual semenjak pembukaan seiring meningkatnya produksi minyak dari AS, Kanada, dan Libya. Ini pun diperparah dengan melemahnya tingkat kepatuhan anggota OPEC akan kebijakan pengurangan produksi.
Tingkat kepatuhan anggota OPEC tercatat menurun ke angka 90 persen pada bulan April dari posisi 92 persen di bulan Maret lalu. Meski demikian, tingkat produksi OPEC menyusut selama empat bulan berturut-turut ke angka 31,97 juta barel per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, harga minyak Brent berjangka melemah US$1,06 ke angka US$50,46 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate lunglai US$1,18 ke angka US$47,66 per barel.
Sentimen ini diperkuat dengan penurunan stok minyak di hub minyak berjangka di Cushing, negara bagian Oklahoma sebesar 215 ribu barel.
Namun, sentimen pelemahan minyak lainnya akan muncul dari Libya. Perusahaan minyak negara Afrika tersebut, Libya National Oil Co melaporkan bahwa produksi telah meningkat 760 ribu barel per hari, di mana angka itu merupakan yang tertinggi sejak Desember 2014.