Seperti diketahui, BEI mewajibkan saham yang beredar di publik untuk tiap emiten sebesar 7,5 persen. Namun, saat ini jumlah saham Chandra Asri yang digenggam publik baru sebesar 4,22 persen.
Direktur Chandra Asri Suryandi menjelaskan, rencana tersebut bahkan memungkinkan untuk membuat jumlah saham yang beredar di publik lebih dari minimal yang diwajibkan BEI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Total saham baru yang akan diterbitkan, ujar Suryandi, sebanyak 280 juta saham dengan nominal Rp1.000 per saham. Namun, manajemen masih enggan buka suara soal target dana dari penerbitan rights issue tersebut.
"Hasil studi belum selesai, nanti akan disampaikan. Alternatifnya bisa saja rights issue, kombinasi dengan pinjaman perbankan. Ini akan memerlukan mekanisme pendanaan," terang Suryandi.
Sementara, Head of Investor Relations Chandra Asri Harry Muhammad Tamin mengatakan, total dana yang dibutuhkan untuk membangun kompleks petrokimia terintegrasi kedua tersebut sekitar US$4 miliar-US$5 miliar.
Harry menambahkan, kompleks itu nantinya akan terdiri dari Cracker Ethylene dengan total kapasitas 1 juta ton per tahun dan pabrik Polyethylene baru dengan kapasitas sebesar 400 kilo ton per annum (KTA).
Selanjutnya, dana rights issue juga diharapkan dapat menunjang kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan tahun ini sebesar US$150 juta. Namun, Harry tak menyebut detail porsi berapa persen yang akan digunakan untuk capex dan pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi kedua.
"Kami tidak menentukan angka berapa untuk belanja modal, berapa untuk kompleks kedua itu," pungkas Harry.