Sekretaris Jendral Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia Nova Sofyan Hakim menyebut, pekerja mengutuk kesewenangan pemegang saham JICT yang memaksa perpanjangan kontrak.
"Hasil investigasi Panitia Khusus Angket DPR terkait Pelindo II memutuskan membatalkan perpanjangan JICT. Bahkan, pemerintah diminta untuk meninjau ulang perpanjangan kontrak," ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (9/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disayangkan, mengingat Pelabuhan Priok merupakan captive market dan 90 persen barang masuk Indonesia untuk digunakan di dalam negeri. "Jadi, tidak ada pengaruhnya pasar di Priok dengan keberadaan Hutchison," terang Nova.
Perpanjangan JICT, sambung dia, terbukti tidak memiliki nilai tambah, baik bagi negara, Pelindo II maupun pekerja. Alih-alih membayar uang sewa perpanjangan kontrak lewat investor, Hutchison malah merogoh kocek dari pendapatan perusahaan, dan memotong hak karyawan.
"Pekerja JICT tidak anti investasi asing, namun jika perpanjangan kontrak yang cacat hukum ini diteruskan, maka akan menjadi preseden buruk penegakan hukum terhadap investasi di Indonesia," imbuhnya.
Nova menilai, apabila tidak diperpanjang dengan Hutchison, Pelindo II berpotensi memperoleh pendapatan lebih dari JICT yang dapat digunakan untuk merelaksasi keuangan perseroan.
Namun, apabila tetap diperpanjang, sebaiknya saham asing dibatasi dengan proses valuasi dan lelang yang transparan. Contoh, Pelabuhan Tanjung Pelepas, Malaysia (Saham Maersk Line dibatasi hanya 30 persen) dan West Port, Malaysia (Saham Hutchison dibatasi hanya 30 persen).