60 Persen Transaksi Kartu Kredit Tak Langsung Dibayar Lunas

Agustiyanti, CNN Indonesia | Senin, 29/05/2017 10:53 WIB
60 Persen Transaksi Kartu Kredit Tak Langsung Dibayar Lunas Berdasarkan data Bank Indonesia, nominal transaksi kartu kredit pada sepanjang kuartal pertama tahun ini tercatat hanya tumbuh 3,08 persen (yoy) menjadi Rp72,01 triliun. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengguna kartu kredit di tanah air ternyata masih senang berutang melalui kartu kredit. Pasalnya, hingga kini, sekitar 60 persen dari rata-rata transaksi kartu kredit di tanah air tak langsung dibayar lunas sebelum jatuh tempo.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Marta menuturkan, terdapat dua jenis nasabah pengguna kartu kredit. Pertama, nasabah yang selalu melunasi tagihannya sebelum jatuh tempo atau disebut transactor. Kedua, nasabah yang tak selalu membayar lunas dan menyisakan tagihannya atau revolver.

"Rata-rata secara industri, 60 persen transaksi kartu kredit itu revolving (tak langsung dilunasi)," ujar Steve kepada CNNIndonesia, dikutip Senin (29/5).


Transaksi kartu kredit yang tak langsung dilunasi itulah yang menurut Steve kemudian dikenakan bunga dan menjadi pendapatan bunga bank. Steve pun memperkirakan penurunan batas maksimal bunga kartu kredit yang diatur Bank Indonesia akan berdampak cukup signifikan pada pendapatan bank dari bisnis kartu kredit.

"Tapi bunga yang dikenakan berapa oleh masing-masing bank dan nasabah, itu bisa berbeda," terangnya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan yang mewajibkan penerbit kartu kredit untuk menyesuaikan bunga kartu kredit paling lambat pada 2 Juni mendatang. Bunga kartu kredit wajib disesuaikan dari maksimal 2,95 persen per bulan atau 35,4 persen per tahun menjadi 2,25 persen per bulan atau 26,95 persen per tahun.

"Saat ini masing-masing bank tentu sudah menghitung dampaknya. Memang akan tergerus dari sisi pendapatan bunga, tapi kami harapkan transaksi juga menjadi meningkat," ungkapnya.

Berdasarkan data statistik pembayaran BI, transaksi kartu kredit di sepanjang tiga bulan pertama tahun ini tercatat tumbuh 9,1 persen (yoy) menjadi 80,74 juta transaksi. Namun, secara nominal, transaksi kartu kredit tercatat hanya tumbuh 3,08 persen (yoy) menjadi Rp72,01 triliun.

Sebelumnya, Direktur Perbankan Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengaku, saat ini, pendapatan bunga masih mendominasi pendapatan perseroan dari bisnis kartu kredit perseroan. Porsinya bahkan masih mencapai sekitar 65 persen.

"Jadi dampak nya lumayan besar dan saya rasa bagi industri kartu kredit sama," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiatmadja mengaku, pendapatan bunga tak lagi mendominasi pendapatan kartu kredit perseroan. Saat ini, menurut Jahja, dari seluruh pendapatan kartu kredit, pendapatan bunga kartu kredit mencapai 36 persen. Sementara itu, pendapatan diskon merchant dari acquiring dan issuing mencapai sekitar 54 persen, serta annual fee sebesar 10 persen.

Kendati demikian, Jahja menilai dampak penurunan bunga terhadap pendapatan dari bisnis kartu kredit tetap signifikan jika volume bisnis tak berkembang. Untuk itu, pihaknya akan mendorong peningkatan volume bisnis antara lain melalui sejumlah promosi.

"Tapi kalau dilihat keseluruhan laba BCA Rp 20 triliun, total net profit after tax (keuntungan setelah pajak) kartu kredit cuma sekitar Rp400 miliar, jadi tak terlalu pengaruh," ungkapnya.