BPS Catat Inflasi Juni 0,69 Persen

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 03/07/2017 11:25 WIB
BPS Catat Inflasi Juni 0,69 Persen Kenaikan harga pangan pada Juni atau bulan Ramadan tahun ini lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia tercatat mengalami inflasi sebesar 0,69 persen secara bulanan (month on month/mom) pada Juni 2017. Besaran inflasi tersebut berada diatas prediksi inflasi pemerintah dan Bank Indonesia sebesar 0,5 persen dan inflasi pada Juni 2016 yang tercatat 0,66 persen (mom).
 
Adapun inflasi tahun kalender (year to date/ytd) tercatat 2,38 persen dan inflasi tahunan sebesar 4,38 persen (year on year/yoy). 

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menjelaskan, inflasi pada Juni terutama didorong oleh adanya penyesuaian pada tarif listrik, serta kenaikan tarif angkutan udara dan angkutan antar kota. Sementara itu, harga bahan pangan yang biasanya menjadi penyumbang utama selama bulan Ramadan relatif terkendali. 

"Dari 82 kota, pada Juni terjadi inflasi sebesar 0,69 persen," ujar 
Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Senin (3/7).


Suhariyanto menjelaskan, pengaruh bulan Ramadan tahun ini tergambar pada inflasi Mei dan Juni. Dengan besaran inflasi pada Juni tersebut, maka inflasi pada bulan Ramadan tahun ini tercatat sebesarb 1,08 persen. 

"Inflasi Ramadan lebaran 2017 lebih terkendali dari tiga tahun sebelumnya," ungkap dia.Suhariyanto menjelaskan, komponen bahan makanan mengalami inflasi sebesar 0,69 persen dengan andil sebesar 0,14 persen. Kendati menyumbangkan inflasi, harga bahan pangan yang mengalami inflasi, yakni daging sapi dan beras tidak terjadi pada lebaran kali ini.

"Sayur-sayur itu andilnya kecil, bawang merah dan daging ayam ras juga masing-masing menyumbang 0,03 persen. Tapi dari banyak komoditas mengalami inflasi," ungkap dia. 

Sementara itu, komponen listrik mencatatkan inflasi sebesar 0,75 persen, dengan sumbangan sebesar 0,18 persen. Selain komponen listrik, inflasi juga disumbangkan oleh kenaikan tarif PAM. Adapun secara keseluruhan, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 2,1 persen dengan andil sebesar 0,42 persen. 

"Harga pangan yang bergejolak inflasinya 0,65 persen, andilnya 0,17 persen," jelas dia.

Adapun inflasi inti tercatat mengalami inflasi sebesar 0,26 persen dengan andil inflasi sebesar 0,15 persen. Kenaikan inflasi inti antara lain disumbang oleh kenaikan harga emas yang menumbangkan inflasi sebesar 0,02 persen. 

Dia menambahkan, inflasi tertinggi terjadi di kota Tual, yakni sebesar 4,48 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Merauke sebesar 0,12 persen. Sementera itu, deflasi tertinggi terjadi di Singaraja sebesar 0,64 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Denpasar sebesar 0,04 persen. 

"Inflasi Juni disebabkan oleh adanya kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran," ungkap dia. 

Sebelumnya, pemerintah dan Bank Indonesia meramal angka inflasi pada Juni ini akan berada dikisaran 0,5 persen. Rendahnya proyeksi tersebut seiring lebih terkendalinya harga pangan pada bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri tahun ini.