BPS Klaim Kelangkaan Garam Tak Kerek Inflasi

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Selasa, 01/08/2017 17:50 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan garam tidak termasuk dalam komoditas yang memiliki andil besar terhadap inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan garam tidak termasuk dalam komoditas yang memiliki andil besar terhadap inflasi. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) meyakini, kelangkaan garam di Indonesia tidak akan berpengaruh banyak terhadap pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK), atau inflasi. Alasannya, bobot garam dalam perhitungan inflasi relatif kecil.

Ia mengungkapkan, selama ini BPS hanya memperhatikan komoditas-komoditas yang memiliki andil besar terhadap inflasi. Garam, kata dia, tidak termasuk dalam komoditas tersebut.

"Bobot garam ini kecil sekali. Jadi, tidak kelihatan dalam andil inflasi," kata Kepala BPS Suhariyanto, Selasa (1/8).

BPS meyakini, keputusan pemerintah melakukan langkah impor mampu menekan harga garam yang tengah meroket di tingkat pasaran. Menurutnya, keputusan tersebut telah tepat dilakukan, di tengah kekurangan stok garam yang terjadi di beberapa daerah.


"Mudah-mudahan ya. Meskipun bobotnya kecil, tetapi saya kira harga akan kembali normal," katanya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti tak memungkiri, sebagai negara kepulauan yang memiliki luas lautan terbesar, kelangkaan garam memang patut dipertanyakan. Menurutnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah agar fenomena peningkatan harga garam tidak kembali terjadi.

"Memang, sebetulnya terlalu ya. Indonesia yang namanya negara kepulauan, lautnya besar, kok garam sampai impor. Yang harus digenjot itu pertama teknologi," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita memastikan sudah menyetujui izin impor garam dengan total mencapai 75 ribu ton. Enggar menyebut stok ini tidak hanya untuk kebutuhan garam konsumsi, namun juga untuk kebutuhan industri.

Menurut Mendag, impor garam dirasa perlu untuk memenuhi kebutuhan nasional. Jumlah impor ini, disebutnya hanya untuk tahap awal. Sebab, kalangan industri juga banyak yang membutuhkan, seperti industri kaca dan kertas. Nantinya, penugasan impor ini akan diberikan kepada perusahaan pelat merah PT. Garam (Persero).
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK