Penjualan Mobil Naik, Menperin Tepis Isu Daya Beli Lesu

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 10/08/2017 12:11 WIB
Penjualan Mobil Naik, Menperin Tepis Isu Daya Beli Lesu Gaikindo mencatat, penjualan mobil sejak awal tahun tercatat 533.570 unit, naik tipis 0,27 persen dari periode yang sama tahun lalu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menepis anggapan lemahnya daya beli masyarakat yang berkembang belakangan ini. Ia justru mengatakan bahwa daya beli masyarakat masih tetap kuat melihat kenaikan penjualan mobil hingga saat ini.

Ia mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil sejak awal tahun (year-to-date) hingga Juni 2017 tercatat 533.570 unit. Angka ini meningkat tipis 0,27 persen dibandingkan posisi tahun lalu 532.127 unit.

"Penjualan mobil meningkat, daya beli artinya meningkat. Ekonomi Indonesia masih kuat, tentu saja masih ada optimisme," papar Airlangga di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Kamis (10/8).

Alih-alih menurunkan daya beli, masyarakat kini dianggap makin banyak menyisihkan uangnya untuk kegiatan selain konsumsi. Ia menilik data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) pada bulan Mei kemarin yang menunjukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) di angka Rp5.012 triliun atau naik 11,18 persen dari posisi yang sama tahun lalu Rp4.508 triliun.


"DPK perbankan masih naik, ekonomi masih tumbuh di kisaran 5 persen. Masih bagus," ungkapnya.

Dengan melihat data-data tersebut, ia pun meyakini daya beli masyarakat masih bisa menopang pertumbuhan manufaktur kedepannya. Pertumbuhan manufaktur, imbuhnya, sangat penting karena menciptakan efek pengganda (multiplier effect) ekonomi yang cukup besar.

Ia mencontohkan sektor otomotif yang berhasil membuka peluang kerja bagi 5 juta orang dari 36 perusahaan yang berinvestasi di Indonesia. Tak hanya itu, tumbuhnya sektor itu juga menciptakan permintaan bagi komponen lokal.

"Nilai tambah bagi konten lokal adalah permintaan bagi 1.500 komponen otomotif baik tier 1, 2, dan 3," katanya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi berbasis pengeluaran (expenditure approach) di semester I tahun ini. Adapun, angka tersebut turun dari 2,72 persen di tahun lalu ke angka 2,65 persen di tahun ini.