Menko Darmin Ramal Ekspor Juli Membaik

Yuliyanna Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 14/08/2017 13:28 WIB
Menko Darmin Ramal Ekspor Juli Membaik Neraca perdagangan Juli akan kembali surplus meski cenderung tipis dibandingkan Juni lalu yang mencapai US$1,63 miliar. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan, kinerja ekspor Juli 2017 berpotensi membaik, lantaran adanya sinyal kelanjutan perbaikan kondisi ekonomi global.

"Yang jelas, ekonomi dunia agak membaik. Seharusnya perdagangan diperkirakan membaik, maka kita punya harapan ekspor kita membaik lagi," ujar Darmin dalam acara diskusi di Hotel Borobudur, Senin (14/8).

Adapun perbaikan ekonomi global tersebut, terlihat dari ekonomi beberapa negara mitra dagang, salah satunya Amerika Serikat (AS). Negara adidaya tersebut merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia dan masih mencatatkan surplus sebesar US$4,7 miliar pada Juni 2017 lalu.

Kendati begitu, Darmin belum ingin membagi proyeksi lebih jauh mengenai kinerja ekspor Juli 2017 dibandingkan Juni lalu yang mampu mencatatkan surplus tertinggi sejak 2012, yaitu mencapai US$1,63 miliar.
Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto melihat, neraca perdagangan Juli akan kembali surplus meski cenderung tipis dibandingkan Juni lalu yang mencapai US$1,63 miliar.

Pasalnya, aktivitas ekspor dan impor belum terlalu pulih di Juli lalu. Sebab, awal bulan masih terpotong jatah libur usai perayaan lebaran di penghujung Juni. "Mungkin yang efektif baru pertengahan Juli ke belakang," kata Eko kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, surplus perdagangan di Juli juga terjadi karena permintaan impor yang landai. "Kemarin pertumbuhan kuartal II, konsumsi rumah tangga tidak sampai lima persen. Itu menggambarkan bahwa permintaan impor Juli belum meningkat," terangnya.

Sementara itu, pada ekspor komoditas, Eko melihat sumbangan terbesar masih dari minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO). Sebab, harganya cukup bagus di Juli lalu, meski secara volume diperkirakan sedikit menurun karena terkena sentimen dari Eropa

Namun, kelanjutan surplus perdagangan ini, menurutnya, belum menjadi lampu hijau bagi pertumbuhan industri yang lebih baik di akhir tahun. Sebab, industri masih perlu melihat kondisi perekonomian global, terutama Amerika Serikat (AS) sebagai negara mitra dagang.

"Apalagi masih ada ketegangan geopolitik AS dan Korea Utara. Akhirnya, beberapa kawasan bisa terkena dampaknya, terutama yang di sekitaran Korea Utara," jelas Eko.
Sementara itu, dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kuartal lalu menjadi salah satu indikasi bahwa industri masih di zona wait and see untuk melakukan ekspansi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan Juni lalu disumbang oleh kinerja ekspor sebesar US$11,64 miliar dan impor sebesar US$10,01 miliar. Sementara secara tahun berjalan (year-to-date/ytd) dari Januari-Juni 2017, ekspor mencapai US$79,96 miliar dan impor US$72,33 miliar. Sehingga neraca perdagangan semester I 2017 mencapai US$7,63 miliar.