Dengan demikian, masyarakat tak cuma pandai mengomentari isu-isu politik, khususnya setiap jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang notabene lebih mudah untuk dipahami.
"Banyak yang katakan ekonomi itu susah. Ekonomi tidak susah dipahami, kecuali bagi yang tidak mau memahami. Kalau politik kan gampang. Pengamat politik kan gampang, jelang Pilpres 2019 begini, begitu. Partainya ini dan itu. Sepertinya gampang dan asyik," ujarnya dalam pertemuan Simposium Nasional di Balai Kartini, Senin (14/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, pemahaman masyarakat sangat penting agar bisa turut mengawal perencanaan dan penggunaan APBN yang dibuat pemerintah dan mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"APBN ini instrumen kalian (masyarakat). Pahami, peduli, kritisi, miliki, dan awasi," tegas mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.
Adapun, dalam APBN Perubahan 2017, pemerintah menargetkan penerimaan negara mencapai Rp1.736,06 triliun, belanja negara Rp2.133,29 triliun, defisit anggaran Rp397,23 triliun atau sekitar 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan pembiayaan utang sekitar Rp461,34 triliun.