Perusahaan sendiri menargetkan IHSG dapat mencapai level 6.000 pada Desember tahun ini. Tren kenaikan IHSG akan terjadi jika ada penurunan suku bunga sebanyak dua kali.
Namun, IHSG secara otomatis akan berbalik arah negatif jika suku bunga dinaikan sebanyak dua kali. Saat ini, IHSG sendiri berada di sekitar level 5.700-5.800.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, pelaku pasar perlu waspada. Pasalnya, jika terjadi perlambatan ekonomi dan ketidakstabilan politik, IHSG rentan anjlok dan berakhir ke level 5.294.
Sementara itu, imbal hasil (return) yang dihasilkan dari saham berkapitalisasi terbilang meningkat beberapa tahun terakhir. Namun begitu, pelaku pasar perlu menyeleksi secara ketat dalam melakukan investasi di saham berkapitalisasi kecil.
Sementara itu, ekonom Senior Standard Chartered Aldian Taloputra menuturkan, pihaknya optimis pertumbuhan ekonomi di semester II lebih menguat dibandingkan dengan sebelumnya.
Hal ini terlihat dari potensi penyaluran kredit yang lebih tinggi karena pertumbuhan persetujuan utang terbilang stabil pada Mei lalu. Kemudian, ditambah dengan optimisme indeks kepercayaan konsumen.
Aldian menyebut, sumber pertumbuhan ekonomi lainnya akan berasal dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI). Menurutnya, peluang kenaikan FDI masih terbuka lebar karena Indonesia termasuk penerima FDI terendah jika dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, Brunei, Myanmar, dan Filipina.
Lebih lanjut ia memaparkan, terdapat 10 sektor yang akan menopang pertumbuhan ekonomi semester II, yaitu perumahan, pertahanan, perikanan, transportasi, agrikultur, jasa, perdagangan, informasi dan komunikasi, makanan dan minuman, dan konstruksi.
Sementara itu, inflasi diramalkan bergerak moderat pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, puncak inflasi sudah terjadi bulan Juni kemarin yang bertepatan dengan bulan Ramadan.
Di sisi lain, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie mengatakan, investasi dan ekonomi di Indonesia tidak akan terganggu oleh kondisi politik hinga Pemilu 2019 mendatang.
"Sebanyak 64 persen rakyat merasa optimis dengan kondisi politik dan 74,8 persen merasa arah bangsa Indonesia sudah ke arah yang benar," jelas Grace.
Selain itu, rakyat juga menolak konsep Khilafah ISI dan HTI, pilihan politik tidak menunjukan dukungan pada radikalisme, dan rakyat mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (agi)