Mega Asset: Tren Kenaikan IHSG Bergantung pada Tingkat Bunga

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Selasa, 15/08/2017 11:11 WIB
PT Mega Asset Management menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai level 6.000 pada Desember tahun ini. Pelaku pasar juga dinilai tetap perlu waspada. Pasalnya, jika terjadi perlambatan ekonomi dan ketidakstabilan politik, IHSG rentan anjlok dan berakhir ke level 5.294. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Mega Asset Management menilai, tingkat suku bunga akan menjadi salah satu indikator yang akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun.

Perusahaan sendiri menargetkan IHSG dapat mencapai level 6.000 pada Desember tahun ini. Tren kenaikan IHSG akan terjadi jika ada penurunan suku bunga sebanyak dua kali.

Namun, IHSG secara otomatis akan berbalik arah negatif jika suku bunga dinaikan sebanyak dua kali. Saat ini, IHSG sendiri berada di sekitar level 5.700-5.800.


Selain suku bunga, laju indeks juga akan dipengaruhi oleh inflasi, nilai tukar rupiah, daya beli masyarakat, harga komoditas, dan arus dana asing ke Indonesia.

Hanya saja, pelaku pasar perlu waspada. Pasalnya, jika terjadi perlambatan ekonomi dan ketidakstabilan politik, IHSG rentan anjlok dan berakhir ke level 5.294.

Lebih lanjut, studi yang dilakukan Mega Asset Management memperlihatkan adanya kesenjangan yang tinggi antara saham berkapitalisasi besar dan kecil bila dilihat dari valuasinya.

Sementara itu, imbal hasil (return) yang dihasilkan dari saham berkapitalisasi terbilang meningkat beberapa tahun terakhir. Namun begitu, pelaku pasar perlu menyeleksi secara ketat dalam melakukan investasi di saham berkapitalisasi kecil.


Sementara itu, ekonom Senior Standard Chartered Aldian Taloputra menuturkan, pihaknya optimis pertumbuhan ekonomi di semester II lebih menguat dibandingkan dengan sebelumnya.

Hal ini terlihat dari potensi penyaluran kredit yang lebih tinggi karena pertumbuhan persetujuan utang terbilang stabil pada Mei lalu. Kemudian, ditambah dengan optimisme indeks kepercayaan konsumen.

Aldian menyebut, sumber pertumbuhan ekonomi lainnya akan berasal dari investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI). Menurutnya, peluang kenaikan FDI  masih terbuka lebar karena Indonesia termasuk penerima FDI terendah jika dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, Brunei, Myanmar, dan Filipina.


Lebih lanjut ia memaparkan, terdapat 10 sektor yang akan menopang pertumbuhan ekonomi semester II, yaitu perumahan, pertahanan, perikanan, transportasi, agrikultur, jasa, perdagangan, informasi dan komunikasi, makanan dan minuman, dan konstruksi.

Sementara itu, inflasi diramalkan bergerak moderat pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, puncak inflasi sudah terjadi bulan Juni kemarin yang bertepatan dengan bulan Ramadan.
Hingga akhir tahun ini, Aldian memprediksi, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,2 persen, kemudian pada tahun 2019 dapat berada di level 5,8 persen. Sementara, nilai tukar rupiah diproyeksi sebesar Rp13.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dan dapat mencapai Rp14 ribu pada tahaun 2019.

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie mengatakan, investasi dan ekonomi di Indonesia tidak akan terganggu oleh kondisi politik hinga Pemilu 2019 mendatang.

"Sebanyak 64 persen rakyat merasa optimis dengan kondisi politik dan 74,8 persen merasa arah bangsa Indonesia sudah ke arah yang benar," jelas Grace.

Selain itu, rakyat juga menolak konsep Khilafah ISI dan HTI, pilihan politik tidak menunjukan dukungan pada radikalisme, dan rakyat mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (agi/agi)