Nicky Hogan
Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya menjabat Presiden Direktur PT Reliance Securities Tbk pada 2010-2015, dan Direktur Pelaksana PT Valbury Asia Securities di 2001-2007. Bergelar Sarjana Akuntansi dari Universitas Tarumanagara.

Mari Merdeka Secara Finansial!

Nicky Hogan, CNN Indonesia | Jumat, 18/08/2017 09:51 WIB
Mari Merdeka Secara Finansial! Perlu kondisi dan tingkatan seperti apakah hingga seseorang dapat dikatakan sudah merdeka secara finansial? (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tentunya Anda pernah mendengar istilah kemerdekaan finansial. Namun, perlu kondisi dan tingkatan seperti apakah hingga seseorang dapat dikatakan sudah merdeka secara finansial?

Ada yang mengartikan kemerdekaan finansial adalah di mana kita tidak perlu lagi bekerja dari pagi hingga sore, cukup duduk santai saja, sementara pendapatan mengalir lancar ke kantong. Terdengar ideal tentunya. Tetapi, tampaknya bukan perkara mudah untuk mencapai kondisi tersebut.

Kecuali Anda adalah seorang konglomerat atau pengusaha besar nasional yang sukses, usaha luar biasa maha besar dibutuhkan untuk dapat mencapai kondisi itu.

Atau jika Anda musisi sejenius John Lennon, atau penulis secanggih JK Rowling, atau raja properti yang asetnya betebaran dimana-mana dengan harga sewa renyah, maka mungkin bisa hidup santai dari hari ke hari, menikmati kemerdekaan finansial.


Masalahnya, kebanyakan dari kita bukanlah konglomerat sukses, bukan pula musisi tenar kelas internasional, dan karangan cerita kita pun hanya sebatas percakapan di group chatting saja. Boro-boro punya banyak properti, yang ada saja cicilannya tidak kunjung tuntas.

Cerita kemerdekaan finansial mengenai duduk santai tanpa bekerja di atas kok menjadi dongeng yang sulit diraih, hanya di awang-awang, rumit seperti cerita Harry Potter-nya Rowling. Cukup Lennon saja yang jadi pemimpi, sedangkan kita jangankan bermimpi, mencoba berusaha membayangkan pun mungkin sulit menangkap bentuknya.

Mari kita mencoba membuat pengertian kemerdekaan finansial menjadi lebih realistis dan "manusiawi". Sesuatu yang dapat kita usahakan dan capai dan "menginjak bumi".

Tidak perlulah sampai pada tingkatan ongkang-ongkang kaki tanpa bekerja dengan penghasilan lancar mengalir. Lagipula apa menariknya hidup dengan kondisi seperti itu bukan?

Pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Ada 4 hal utama yang selalu perlu kita perhatikan dalam hal finansial. How to earn, how to spend, how to save, dan how to invest.

How to earn. Tentu saja dengan bekerja, entah sebagai seorang karyawan atau buruh atau pekerjaan lain, maupun sebagai seorang profesional.

Penghasilan memadai tentu saja baik namun penghasilan pas-pasan pun tidak lantas membuat kita melupakan mimpi akan kemerdekaan finansial. Selalu ada jalan untuk meraih apapun mimpi kita selama kita bijak dan cerdik.

How to spend. Setelah bekerja keras, terkadang kita malah menjadi tidak bijak dalam menggunakan hasil jerih payah kita. Menghabiskan gaji atau penghasilan kita, menjadikan kita tidak fair terhadap diri kita di masa depan.

Sudah menjadi cerita umum, gaji yang diterima hanya berumur harian saja, hanya habis untuk bayar ini itu menutup tagihan kartu kredit konsumerisme kita, untuk kemudian "digali" lagi.

Sekali waktu, lakukan analisa mengenai pengeluaran, dan Anda akan takjub dengan begitu banyak pengeluaran tak bermanfaat yang sering dihamburkan.

How to save. Kalaupun akhirnya kita dapat menyisihkan dan menyimpan kelebihan dana, itu pun hanya sekedarnya. Dan parahnya, yang sering terjadi, kita tidak mengelolanya secara maksimal.

Menyimpan ala kadar dan sekenanya di aset tidak produktif, rekening tabungan misalnya, hanya mengurangi nilai kekayaan kita dari waktu ke waktu, digerogoti oleh laju inflasi yang jauh lebih tinggi.

How to invest. Banyak dari kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada 2 sumber penghasilan yang dapat kita peroleh. Selain dengan bekerja, sumber penghasilan kedua adalah melalui investasi. Bahkan investasi sebenarnya adalah sarana untuk kita mengubah penghasilan (pertama) kita yang linear menjadi eksponensial.

Jika saving adalah menyimpan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan jangka pendek, maka investing selalu ditujukan untuk jangka panjang. Itu pakem pasti dan tak bisa ditawar lagi.

Pilihan investasi sangat beragam, mulai dari membeli properti dan aset fisik lainnya hingga membeli instrumen keuangan yang paling populer saat ini seperti saham dan reksadana.

Karena definisi investasi selalu dengan orientasi jangka panjang, artinya setiap dana jangka pendek yang tidak terpakai seharusnya ditumpuk di keranjang investasi kita.

Jika tahu ujung tujuan adalah investasi dan semua harusnya "bermuara" di sana, maka kita akan menjadi lebih bijak dan cerdik dalam menyikapi 3 how pertama tadi.
Investasi adalah keharusan dan kebutuhan, bukan pilihan. Tanpa investasi, tak ada yang namanya kemerdekaan finansial.

Sekarang, bukankah tatkala memiliki penghasilan, menggunakannya secara bijak, menyimpan seperlunya sesuai kebutuhan jangka pendek, dan menumpuk rasa aman melalui instrumen investasi, sesungguhnya kita sudah dapat merasakan suasana merdeka secara finansial? Ya, sesungguhnya sudah.

Selamat berinvestasi, selamat merdeka! (gir/gir)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS