Kepala Biro Manajemen Risiko Jasindo Anita Widodo menyebut, jumlah klaim yang akan diajukan oleh Telkom diproyeksi tidak jumbo. Pasalnya, risiko asuransi terbesar untuk lini usaha satelit berada saat hendak diluncurkan.
"Asuransi satelit itu risiko terbesarnya yang ditanggung dari peluncuran sampai satelit berhasil ke orbitnya, orbit yang diharapkan," ucap Anita, Rabu (6/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Telkom Klaim Telah Pulihkan 66 Persen ATM |
Dengan demikian, ia menganggap, apa yang telah terjadi pada satelit Telkom-1 tidak akan menghasilkan permintaan klaim yang besar dibandingkan bila ada satelit yang gagal meluncur atau sampai ke orbit.
"Kalau pun ada klaim, jumlah relatif kecil karena risiko asuransi terbesar saat peluncuran," sambungnya.
"Jadi dalam hal ini perusahaan asuransi tidak dituntut klaim nya," terang Anita.
Sementara itu, Direktur Wholesale & International Service Telkom Abdus Somad Arief menuturkan, kerusakan satelit Telkom-1 tidak akan menjadi beban yang mengurangi kas perusahaan secara signifikan.
Ia tak menampik pihaknya masih melakukan penghitungan kerugian atas kejadian tersebut. Namun, perusahaan lebih fokus pada target pemulihan 15 ribu site hingga 10 September mendatang.
Satelit Telkom-1 mulai rusak pada Jumat (25/8) lalu, ditandai dengan beberapa mesin ATM hingga stasiun televisi yang tidak beroperasi secara normal.