Dalam pertemuan itu, Susi membahas rencana pengembangan dan investasi perusahaan Jepang di enam pulau terluar Indonesia.
Pulau-pulau itu yakni, Sabang, Natuna, Morotai, Saumlaki, Moa, dan Biak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun kerja sama itu antara lain mempromosikan industri dan komunitas perikanan di enam pulau terluar Indonesia. Termasuk, membangun pelabuhan dan pasar ikan dan pembangunan kapal angkut ikan dari pulau terluar ke pelabuhan utama.
"Ini sebagai upaya meningkatkan dan mempercepat konektivitas pulau terluar Indonesia dengan pasar," kata Susi.
Kerja sama lainnya yaitu, peningkatan kapasitas pengawasan di enam pulau tersebut. Jepang nantinya akan memberikan bantuan radar berteknologi untuk keamanan pulau-pulau itu.
Alasan Pemilihan
Daerah tersebut kata Susi, dipilih karena dianggap sebagai lokasi yang cukup rentan untuk nelayan Indonesia. Apalagi, ukuran kapal yang digunakan oleh nelayan cukup kecil dan tidak dilengkapi Vessel Monitoring System (VMS).
"Ya, jadi [keuntungan] kita nanti nelayannya bisa lebih melek teknologi. Dia juga bisa mudah mendapat ikan karena tahu yang mana bagian laut yang ikannya banyak. Walaupun, kapal yang mereka pakai tidak besar-besar amat," kata Susi.
Selain bantuan radar, kerja sama ini juga berkaitan dengan pembangunan kapal untuk patroli dan kapal multi guna.
Kedua negara akan memformulasikan proyek kerjasama maritim dan perikanan dengan menggunakan teknologi ruang angkasa.
"Jepang tentu nantinya bisa mendorong perusahaan-perusahaannya, makanya kerja sama ini cukup penting. Saya yakin Jepang akan menjadi salah satu mitra strategis kita di bidang perikanan," katanya.
Namun, terkait investasi yang ditanamkan Jepang dalam kerja sama ini, Susi belum bisa menyebut total nominal yang disepakati kedua negara. Dia menyebut, nilai tersebut masih menjadi pembahasan dan akan diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo.
"Nilainya nanti bakal disebutkan langsung sama Pak Presiden," kata Susi. (kid)