"Itu saya kira pemberitaannya kurang pas (Impor LNG). Singapura itu menawarkan mini LNG tanker untuk digunakan di PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas) yang ada di kepulauan Indonesia bagian barat," ujar Jonan, Rabu (13/9).
Sayang, Jonan enggan menjelaskan lebih jauh terkait rencana kerja sama pemerintah dengan Keppel.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga membantah jika Indonesia mengimpor LNG. Pasalnya, pemerintah telah berkomitmen untuk tidak melakukan impor lantaran masih cukupnya ketersediaan gas di dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau mereka digabungin, harga gasnya itu bisa US$3,8 per MMBTU. Jadi, kan lebih murah. Ini gasifikasi, dari Singapura dia bawa, dia keliling, kan bagus buat kita," terang Luhut pertengahan Agustus lalu.
Sebagai gantinya, PLN akan memasok LNG dari yang sebelumnya dikontrak PLN dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam negeri. Nantinya, Keppel akan membeli LNG kepada KKKS sesuai harga kontrak yang ditetapkan untuk PLN.
"Secara kasat mata, tentu transportasi dari Singapura ke Sumatra kan lebih pendek dibanding dari Bontang, tentunya pasti akan lebih murah. Namun, kami masih belum tahu angka finalnya karena kami masih belum tahu regulasi lainnya," jelas Nicke pekan lalu.
Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017-2026, pembangkit listrik tenaga gas akan mengambil porsi 26,7 persen dari bauran energi (energy mix) pada 2026.
Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan gas sebanyak 1.193 Trilion British Thermal Unit (TBTU), atau tiga kali lipat dibanding tahun 2016 sebanyak 606,5 TBTU.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 851 TBTU, atau 71,33 persen dari kebutuhan gas bagi pembangkit akan disediakan dari LNG.