"Jika memang benar ada kontrak impor LNG dengan Keppel, perusahaan Singapura, itu sangat disayangkan. Awalnya, kami mengira ini hanya sekadar rencana semata, mengingat besarnya kargo LNG kita yang tidak laku setiap tahunnya," ujarnya, mengutip ANTARA, Senin (11/9).
Adapun, kontrak tersebut untuk pengadaan minyak dan gas demi pemenuhan kebutuhan energi listrik oleh PT PLN (Persero). Memang, harga bisa jadi pertimbangan pemerintah melakukan impor, lantaran perusahaan tersebut menawarkan harga sekitar US$3,8 per mmbtu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:PLN Tampik Kabar Impor LNG dari Singapura |
Politisi Partai Nasdem tersebut menyebut, dalam menangani masalah energi, pemerintah tak bisa se-ala kadarnya saja. Apalagi, dalam kacamata bisnis mengandalkan peran Kartel dan broker. Semestinya, ada skema yang terpadu dan terintegrasi lewat road map (peta jalan) industrialisasi nasional.
"Banyak cara bisa dengan bangun kota gas, pemukiman dapur berbasis gas, konversi bahan bakar untuk nelayan, listrik industri UMKM misalnya semua itu memungkinkan," katanya.
Sedangkan, akhir tahun lalu, terdapat 66,6 kargo tidak terserap. Terdiri dari 43 kargo diekspor dan 23,6 kargo untuk dalam negeri.
"Ini kan aneh dan ajaib. Kargo dalam negeri tidak terserap, kita malah impor. Melansir data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jika tidak ada permintaan terhadap LNG dalam negeri, angka tersebut terus bertambah hingga tahun 2035 mendatang dengan rata-rata jumlahnya mencapai 50-60 kargo per tahun,” pungkasnya.