Investor Minat Bangun Pabrik Pelumas Berbasis CPO

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 14/09/2017 20:02 WIB
Investor Minat Bangun Pabrik Pelumas Berbasis CPO Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Dumai, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian mengatakan, terdapat satu perusahaan yang berminat untuk mengembangkan minyak pelumas berbasis minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Perusahaan ini disebut akan membangun basis produksinya di Batam.

Sayang, Direktur Jenderal Agro Kemenperin Panggah Susanto enggan menyebut nama perusahaan atau nilai investasi yang akan digelontorkan oleh perusahaan .tersebut. “Rencananya akan ada yang mengembangkan, lokasinya di Batam,” ujar Panggah singkat ditemui di Dumai, Riau, Kamis (14/9).

Ia melanjutkan, pengembangan ini tentunya akan menambah jumlah varian poduk derivatif kelapa sawit yang saat ini berjumlah lebih dari 150 jenis. Adapun menurutnya, tren variasi produk turunan dari kelapa sawit memang meningkat sejak hiliriasi kelapa sawit digalakkan pada 2011 lalu.


Sekadar informasi, penguatan investasi di sektor hilir kelapa sawit di tahun 2011 dimulai dengan pengurangan pajak penghasilan untuk industri hilir kelapa sawit melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2011 dan pemberian insentif libur pajak (tax holiday) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130 Tahun 2011. Di samping itu, pemerintah juga memberlakukan bea keluar secara progresif di tahun yang sama.

“Jumlah variasi produk derivatif kelapa sawit saat ini sudah cukup banyak, berbeda dengan tahun 2011 yang hanya 50-an produk,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku cukup puas dengan kontribusi sektor hilir kelapa sawit dalam beberapa terakhir. Sebab menurutnya, hingga akhir 2016, nilai industri keapa sawit dan turunannya telah mencapai US$20 miliar.

Di samping itu, sebanyak 60 persen ekspor berbasis kelapa sawit kini terdiri dari sektor hilirnya. Kondisi ini lebih baik dibanding lima tahun lalu yang hanya 30 persen dari total seluruh ekspor kelapa sawit.

“Ini cukup bagus karena kami bisa menciptakan nilai tambah dari komoditas unggulan. Kami harap, pohon industri dari kelapa sawit ini bisa lebih banyak lagi,” jelasnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor nilai ekspor produk hilir kelapa sawit pada akhir 2010 tercatat US$7,2 miliar. Angka ini kemudian naik signifikan 118,05 persen ke angka S$15,7 milar di akhir tahun 2016.