Langkah yang diambil S&P ini menyusul langkah Moody's dan Fitch yang menurunkan penlaiannya mengenai prospek kemampuan pemerintah China untuk membayar utang. Di sisi lain, periode berkepanjangan pertumbuhan kredit yang terlampau kuat, telah meningkatkan risiko keuangan dan ekonomi China.
"Terlepas dari kenyataan bahwa pemerintah China telah menunjukkan tekad yang lebih besar untuk menerapkan kebijakan deleveraging. Kami melihat seluruh kredit di sektor korporasi tetap berada di level 9 persen," ujar Senior Director of Sovereign Ratings S&P Kim Eng Tan, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (23/9).
Menurut Tan, deleveraging kemungkinan akan dilakukan pemerintah China secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Adapun, pihaknya sebelumnya berharap delevereging mungkin terjadi di awal tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kementerian Keuangan China mengatakan penurunan peringkat tersebut merupakan keputusan yang salah. Keputusan itu dianggap mengabaikan kondisi fundamental ekonomi dan perkembangan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
"China mampu menjaga stabilitas sistem keuangannya melalui pinjaman secara hati-hati, pengawasan pemerintah yang lebih baik, dan pengendalian risiko kredit," jelas Kementerian Keuangan China dalam situs resminya. (agi)